Mediator Usulkan Kerangka Pembicaraan Iran dan AS, Apa Isinya?

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 5 Februari 2026 | 21:04 WIB
Ilustrasi, Para mediator usulkan kerangka pembicaraan antara Iran dan AS yang dijadwalkan akan berlangsung pada pekan ini. (Pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)
Ilustrasi, Para mediator usulkan kerangka pembicaraan antara Iran dan AS yang dijadwalkan akan berlangsung pada pekan ini. (Pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)

Sebuah 'kesepakatan non-agresi' antara Teheran dan Washington juga diusulkan oleh ketiga mediator, kata salah satu sumber.

Belum diketahui bagaimana Washington atau Teheran menanggapi kerangka kerja yang diusulkan tersebut.

Di pihak lain, AS telah memperjelas bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup peraturan tentang program nuklir Iran, rudal, dan proksi.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Indonesia Tetap Non-Blok dan Tak Akan Bergabung dengan Pakta Militer Mana pun

Di masa lalu, Iran bersedia berkompromi dalam pengembangan nuklir, termasuk pada tahun 2015 ketika menandatangani Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), kesepakatan nuklir dengan negara-negara lain, termasuk AS, untuk membatasi pengayaan nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.

Namun, tiga tahun kemudian, Trump menarik AS keluar dari perjanjian tersebut.

Tetapi Teheran sejauh ini menolak untuk berbicara tentang pembatasan dukungannya untuk sekutu non-negara di kawasan itu dan pengurangan rudal balistiknya.

Pada hari Rabu, Iran masih tetap teguh pada pendiriannya bahwa mereka akan "secara eksklusif" membahas program nuklir dan pencabutan sanksi, lapor kantor berita semi-resmi Tasnim.

Baca Juga: Pengamat: Demokrasi Iran Masih Bersifat Utopis, Perubahan Rezim Tak Akan Berujung Runtuhnya Republik Islam

 

Menghidupkan kembali diplomasi

Ini bukan pertama kalinya pejabat Iran dan AS bertemu dalam upaya untuk menghidupkan kembali diplomasi antara kedua negara, yang belum memiliki hubungan diplomatik sejak tahun 1980.

Pada bulan Juni, pejabat AS dan Iran berkumpul di ibu kota Oman, Muscat, untuk membahas perjanjian nuklir, tetapi proses tersebut terhenti karena Israel membom Iran.

Serangan Israel memicu perang selama 12 hari, yang berakhir dengan pemboman fasilitas nuklir utama Iran oleh AS dan serangan simbolis Iran terhadap pangkalan militer Al Udeid di Qatar, yang menjadi tempat pasukan AS bermarkas.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Al Jazeera

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X