SENAYANPOST - Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz menilai bahwa opsi militer terhadap Iran justru tidak menguntungkan kepentingan strategis Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, meskipun Republik Islam Iran tengah berada dalam kondisi melemah, eskalasi bersenjata berisiko menghasilkan dampak yang berlawanan dari tujuan yang ingin dicapai Washington.
Citrinowicz merupakan mantan pejabat intelijen pertahanan Israel yang selama lebih dari 25 tahun bertugas di berbagai posisi strategis, termasuk sebagai kepala desk Iran di Divisi Riset dan Analisis Intelijen Pertahanan Israel.
Saat ini ia menjadi peneliti di Atlantic Council serta Institute for National Security Studies (INSS).
Baca Juga: Pengamat: Iran Tak Bisa Kembali ke Status Quo, Demokrasi Juga Belum Pasti
Pandangannya merefleksikan kalkulasi keamanan regional dari sudut pandang institusional.
Dalam analisisnya, Citrinowicz menyebut bahwa rezim Iran tidak berkelanjutan dalam bentuknya saat ini apabila tidak bersedia melakukan perubahan mendasar dalam kebijakan domestik maupun luar negeri.
"Rezim Iran saat ini tidak berkelanjutan. Kecuali jika bersedia melakukan perubahan yang mendalam dan struktural dalam kebijakan domestik dan luar negerinya—perubahan yang sangat kecil kemungkinannya diterima oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei—rezim ini pada akhirnya akan runtuh," tulis Citrinowicz pada 27 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari akun X-nya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa serangan militer bukanlah jalan yang efektif untuk mempercepat perubahan tersebut.
Justru, langkah itu dinilainya berisiko memperkuat rezim yang sedang tertekan.
Baca Juga: Pengamat: Keruntuhan Rezim Iran Bisa Datang Perlahan, Lalu Tiba-Tiba
"Serangan militer berisiko menghasilkan dampak yang berlawanan dari tujuan awalnya. Tindakan semacam itu kemungkinan besar akan memicu eskalasi besar, memperkuat kohesi internal rezim, dan menekan kembali peluang munculnya protes rakyat," ujarnya.
Menurut Citrinowicz, dalam situasi ancaman eksternal, masyarakat Iran cenderung bersikap defensif dan lebih khawatir terhadap represi aparat keamanan, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Artikel Terkait
Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban
Tidak Ada Kantor Garda Revolusi Diduduki Demonstran, Sumber Senayan Post di Iran Ungkap Kondisi Iran Kini
Pengamat: Keruntuhan Rezim Iran Bisa Datang Perlahan, Lalu Tiba-Tiba
Pengamat: Iran Tak Bisa Kembali ke Status Quo, Demokrasi Juga Belum Pasti