Lebih lanjut, Iran mengkritik resolusi tersebut karena sengaja mengabaikan isu penting pembentukan 'zona bebas senjata nuklir' di Timur Tengah.
Dengan persenjataan nuklir Israel yang sedang berjalan, Teheran menegaskan bahwa setiap kerangka kerja keamanan regional yang berkelanjutan harus mengatasi kenyataan ini.
Ketidakhadiran Iran dalam pemungutan suara baru-baru ini seharusnya tidak dibaca sebagai kemunduran dukungan untuk Palestina, melainkan sebagai penentangan terhadap kerangka kerja yang dipandangnya 'tampaknya membawa perdamaian, tetapi pada kenyataannya justru menghasilkan krisis'.
Baca Juga: Studi Lapangan Perang Iran-Israel: Implikasi dan Ancaman atas Dunia Internasional di Masa Depan
Dari perspektif Teheran, solusi apa pun yang dibangun di atas ketidakadilan, apartheid, dan pengingkaran hak-hak historis Palestina tidak akan bertahan lama.
Sebaliknya, hal itu akan melanggengkan konflik dan memperdalam ketidakstabilan di Asia Barat.
Dalam hal ini, pesan Iran melalui ketidakhadirannya di Majelis Umum dapat dibaca sebagai berikut: perdamaian sejati tidak akan ditemukan dalam pembagian tanah Palestina, tetapi dalam pemulihan keadilan historis dan pengakuan atas kehendak rakyat Palestina.***
Artikel Terkait
Tanggapi Laksamana Marsetio, Pakar Urusan Iran Sebut Pertahanan Udara Harus Kuat untuk Jaga Kedaulatan dan Kepentingan Nasional
America Asks for a Ceasefire in the Iran-Israel War, AM Hendropriyono: From an Intelligence Perspective, It's Normal
Syiah Israel dan Yahudi Iran
Iran Siap Normalisasi Hubungan Diplomatik dengan Suriah, Ali Larijani Sebut Syarat Ini
Kemungkinan Israel Penjajah Kembali Serang Iran, Veteran AS Singgung Lobi Zionis di Kongres dan Gedung Putih