218 Hari Genosida, Hamas Ungkap Hasil Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza dengan Israel Penjajah

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 11 Mei 2024 | 14:10 WIB
Hamas ungkap hasil terkini negosiasi gencatan senjata di Gaza dengan Israel belum lama ini dan menemui jalan buntu. (Twitter.com/@KhaledAbuToameh)
Hamas ungkap hasil terkini negosiasi gencatan senjata di Gaza dengan Israel belum lama ini dan menemui jalan buntu. (Twitter.com/@KhaledAbuToameh)

SENAYANPOST - Hamas belum lama ini mengungkap hasil negosiasi gencatan senjata di Gaza dengan Israel di tengah intensnya serangan penjajah Zionis di Rafah.

Setelah Hamas menyetujui usulan gencatan senjata oleh Qatar dan Mesir dan ditolak oleh penjajah Israel, gerakan perlawanan Palestina itu menyatakan bahwa proses negosiasi kembali ke titik awal.

Di lain pihak, Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu mediator gencatan senjata mengatakan pihaknya berusaha untuk menjaga kedua belah pihak agar tetap terlibat walaupun hanya secara virtual.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Hamas mengataka bahwa pihaknya akan berkonsultasi dengan faksi-faksi Palestina lainnya mengenai strategi perundingan untuk menghentikan perang tujuh bulan yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.

Baca Juga: Israel Serang Rafah, Tuduh AS Lakukan Hal Ini Usai Hamas Setuju Gencatan Senjata di Gaza

Beberapa jam sebelumnya, PBB memperingatkan bahwa bantuan untuk Gaza bisa terhenti dalam beberapa hari setelah Israel mengambil kendali pada minggu ini atas penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir, yang merupakan jalur penting untuk pasokan ke daerah kantong Palestina yang hancur.

Meskipun ada tekanan besar dari AS, Israel mengatakan pihaknya akan melanjutkan serangan ke kota Rafah di Gaza selatan, tempat lebih dari satu juta pengungsi mencari perlindungan dan pasukan Israel mengatakan militan Hamas berada di dalamnya.

Tank-tank Israel menguasai jalan utama yang memisahkan bagian timur dan barat Rafah, yang secara efektif mengepung bagian timur kota tersebut dalam sebuah serangan yang menyebabkan Washington menunda pengiriman sejumlah bantuan militer.

Gedung Putih mengatakan bahwa pihaknya mengawasi 'dengan penuh keprihatinan'.

Namun operasi Israel tampaknya dilokalisasi di sekitar penyeberangan Rafah yang ditutup dan tidak mencerminkan invasi skala besar.

Baca Juga: Hamas Setuju Gencatan Senjata di Gaza dengan Penjajah Israel, Ini Isinya

"Sekali lagi, kami mendesak Israel untuk segera membuka penyeberangan itu untuk bantuan kemanusiaan," kata juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby pada 10 Mei 2024, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.

Rencana Israel untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Rafah telah memicu salah satu perpecahan terbesar dalam beberapa generasi dengan sekutu utamanya.

Washington menunda pengiriman senjata karena khawatir akan jatuhnya banyak korban sipil.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X