Opini: Denny dan Merpati

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Selasa, 17 September 2024 | 22:26 WIB
Denny dan Merpati
Denny dan Merpati

Lalu, apa kaitan Denny dan merpati dengan Paus Fransiskus yang berkunjung ke Indonesia, belum lama ini?

Baca Juga: Gerakan Coblos Tiga Paslon Muncul dari Pendukung Anies, Pengamat Sebut Berbahaya Bagi Demokrasi

Denny sebagaimana Paus Fransiskus, adalah seorang pluralis dan universalis.

Dalam banyak tulisannya, Denny mengemukakan gagasan universalisme agama. Semua agama, tulis Denny, adalah milik manusia.

Ia menyatakan, agama adalah warisan kultural umat manusia. Hal yang identik, juga dikemukakan Paus Fransiskus yang berkunjung ke Indonesia dari tanggal 3-6 September 2024 lalu.

Paus Fransiskus menyatakan, aku menyembah Tuhan. Tapi bukan Tuhannya orang Katolik. Orang pun bertanya-tanya apa yang dimaksud Sri Paus?.

Baca Juga: Komitmen Kun Wardana soal Nasib Pekerja di Jakarta, Jamin Kerja Layak Bagi Seluruh Warga

Romo Fransiskus menjelaskan, aku menyembah Tuhan umat manusia. Tuhan semua agama. Tapi dengan cara penyembahan Katolik.

Apa yang dikatakan Sri Paus
menunjukkan bahwa, beliau seorang universalis. Pinjam istilah Abdul Rachman, seorang asketis, yang rajin menulis di FB -- Paus Fransiskus adalah "Rasul Tuhan Abad 21" untuk menyatukan semua agama di dunia.

Dari gambaran itu, misteri hinggapnya merpati di bahu Denny terkuak.

Peristiwa "merpati Denny" terjadi tanggal 5 September 2024, sehari sebelum Paus Fransiskus meninggalkan Indonesia.

Baca Juga: KPK Temukan Dokumen di Dalam Mobil Milik Harun Masiku

Dan sehari setelah Denny menyerahkan lukisan artificial intelligence (AI), tentang Sri Paus yang tengah mencuci kaki orang Indonesia.

Apakah koinsidensi dua peristiwa simbolis itu kebetulan? No. Tuhan tidak bermain dadu, kata Albert Einstein. Tak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan.

Cerita Denny dan merpati itu, mungkin dianggap orang mengada-ada. Tapi bagiku, yang sudah berpuluh tahun bersahabat dengan Denny -- kisah merpati di bahu Denny adalah sebuah simbol yang "menjanjikan" tentang kehidupan masa depan kita.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Opini: Menunggu Krisis Ekonomi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X