Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Denny JA "membawa" tragedi terbesar dunia abad 21 untuk selamanya di Jakarta? What?
Lihat. Ribuan pesawat penumpang jumbo parkir di bandara internasional dunia. Langit pun sepi. Tak ada deru pesawat terbang yang lewat di angkasa.
Hari raya dan tahun baru, manusia hanya tinggal di rumah. Keluar rumah terlarang di seluruh dunia. Seorang Jenderal dari Jerman berkata, manusia bisa meledakkan nuklir.
Tapi kini manusia dikepung makhluk invisible namun lebih mengerikan dari ledakan nuklir. Terlihat setan yang menakutkan terbang di langit diiringi monster-monster kejam yang siap membunuh manusia.
Jutaan manusia merintih kesakitan dan putus asa. Rumah sakit di dunia tak sanggup menampung pasien yang datang untuk menyelamatkan hidupnya.
Sungguh mengerikan! Aku merinding, ingat masa-masa yang kritis dalam hidupku, antara hidup dan mati, saat melihat lukisan-lukisan tragedi pandemi Covid-19 di lantai dua hotel Mahakam 24 Residence, Blok M, Jakarta.
Betapa tidak, saat itu Juni 2021, aku, istri, dan keempat anakku, semuanya terkena gigitan virus Covid-19. Aku yang paling parah.
Seluruh tubuhku seperti dicincang. Sakit sekali. Aku pasrah. Saat itu aku mengaduh -- "Tuhan, aku sudah siap jika Engkau ambil nyawaku, dari pada sakit luar biasa diterkam virus corona."
Gambaran seperti itulah yang terbayang dalam benakku ketika menyaksikan puluhan lukisan Denny JA (DJA) yang berada di lantai dua hotel Mahakam.
Dengan bantuan AI (artificial intelligence), DJA berhasil "membetot kenangan" munculnya tragedi terbesar abad 21, pandemi Covid-19, yang membunuh ratusan ribu --bahkan jutaan manusia -- di seluruh dunia.
Dan uniknya, pameran lukisan AI tersebut, berlangsung selamanya di hotel Mahakam, sepanjang dunia belum kiamat.
Artikel Terkait
Opini: Pulanglah, Joko Pinurbo
Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)
Opini: Buya Syafii dan Flexing Tokoh Agama (Mengenang 2 Tahun Kepergian Buya Syafii)
Opini: Rhoma Irama dan Khalid Basalamah dalam Debat Musik Islam
Opini: In Memoriam, Salim Said dan Empat Generasi Film Indonesia
Opini: Korupsi yang Jorok
Opini: Kedermawanan Buya Syafii