Artinya, siapa pun – tak pandang agamanya, bahkan orang atheis sekali pun – jika berderma akan bahagia.
Karena itu, saat ini “berderma” sudah menjadi insutrumen terapi psikis bagi orang yang stres, depresi, dan tidak bahagia hidupnya. Ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi kebenaran terapi tersebut.
Baca Juga: Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)
Andrew Carnegie (1835-1919) – dermawan terkenal di dunia menyatakan, kekayaan yang diperoleh siapa pun, pertama-tama harus digunakan sebanyak-banyaknya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Kekayaan yang diwariskan hanya kepada anak cucunya adalah tindakan yang salah," ujarnya.
Carnegie dalam Gospel of Wealth (1889) menyatakan, menjadi kaya, adalah hak semua orang. Tapi jika anda meninggal hanya sebagai orang kaya, anda sangat hina.
Jika anda ingin terhormat, meninggallah dalam kondisi harta anda sudah disalurkan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan.
Baca Juga: Opini: Buya Syakur dan Fikih Gender
Carnegie menghibahkan 90% kekayaannya untuk infak sosial. Keluarga yang ditinggakan hanya menerima 10% sisanya.
Terinspirasi Gospel of Wealth tadi, Bill Gates bersama Warren Buffet mendirikan The Giving Pledge (TGP) tahun 2000.
TGP membujuk orang-orang kaya di dunia untuk mendermakan hartanya minimal 50%. Pada tahun 2012, misalnya, sudah 139 orang superkaya bergabung dalam TGP.
Dalam waktu singkat, aset TGP pun mencapai 339 Milyar USD (Rp 4000 Triliun) Mereka yang tergabung dalam TGP, antara lain, Mark Zuckerberg (Facebook, AS), Bloomberg (Banker, AS), Elon Musk (SpaceX, Tesla, AS), David Rockefeller (Banker, AS), Ted Turner (raja media, AS), dan Dato Sri Tahir (Mayapada Group, Indonesia).
Baca Juga: Opini: Buya Syafii dan Mbah Moen
Gates seperti halnya Carnigie hanya mewariskan 10 persen kekayaannya untuk keluarga.
Kenapa? Kata Gates: karena aku kaya bukan dari warisan orang tua. Pengaruhnya akan buruk bila anak-anak mendapat harta warisan yang bukan hasil kerja kerasnya.
Artikel Terkait
Opini: Buya Syafii dan Mbah Moen
Opini: Buya Syakur dan Fikih Gender
Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)
Opini: Buya Syafii dan Flexing Tokoh Agama (Mengenang 2 Tahun Kepergian Buya Syafii)
Tauladani Buya Syafii, Kader Muda Muhammadiyah Refleksikan Pemikirannya