Opini: Pertambangan Nikel, Mobil Listrik, dan Pencemaran Lingkungan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 7 November 2023 | 12:18 WIB
Ir Wisnu Salman mengulas tentang pertambangan nikel, mobil listrik, dan dampaknya terhadap pencemaran lingkungan. (Dokumentasi SenayanPost.com)
Ir Wisnu Salman mengulas tentang pertambangan nikel, mobil listrik, dan dampaknya terhadap pencemaran lingkungan. (Dokumentasi SenayanPost.com)

Ir. Wisnu Salman
Alumnus ITB/Konsultan Pertambangan/CEO PT Geo Mining Berkah

SENAYANPOST - Dunia pertambangan nikel redup. Nikel tidak hanya turun harganya di London Metal Exchange. Tapi juga terbukti menimbulkan pencemaran lingkungan yang dahsyat.

Di sisi lain, nikel yang digadang-gadang Presiden Jokowi jadi bahan baku utama baterai untuk mobil listrik, sehingga Indonesia akan menjadi pusat industri baterai dunia, ternyata popularitasnya makin redup. Kenapa?

Baca Juga: Sambutan Dalam Pengukuhan Guru Besar STHM

Produsen mobil listrik dunia, kini banyak yang beralih memakal baterai berbasis lithium ferro-phosphate (LFP) yang tidak lagi memerlukan nikel. Baterai LFP dipilih karena lebih ekonomis.

Pabrik mobil listrik terbesar dunia Tesla dan Volkswagen misalnya, kini sudah memakai baterai LFP.

Bahkan untuk model mobil listrik termurah mereka, yang volume penjualannya sangat besar. Inovasi dan kemajuan teknologi tersebut, jelas akan menyingkirkan popularitas nikel.

Baca Juga: السيناريوهات الأربعة لإنهاء الهجوم الإسرائيلي على قطاع غزة الفلسطيني

Dampaknya, harga komoditas nikel yang digadang gadang menjadi primadona Indonesia, jeblok di pasar global. Sepanjang 2023, misalnya, harga nikel telah anjlok 39,29 persen. Pada penutupan perdagangan Rabu 25 Oktober lalu, harga nikel di London Metal Exchange berada di level 18,243,50 perton.

Penurunan harga nikel terlihat sangat tajam. Ke depan, jika tak ada inovasi teknologi baterai berbasis nikel yang bisa menyaingi efisiensi baterai FLP, masa depan nikel bisa muram. Nikel kelak hanya dipakai untuk instrumen asesoris di kendaraan bermotor yang harganya murah.

Indonesia tercatat sebagai negeri yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Posisinya sama dengan Australia, masing-masing menyumbang 21 persen dari total cadangan nikel dunia.

Baca Juga: Terjemahan Lirik Lagu You Could Start a Cult, Niall Horan, Tentang Apa sih Lagunya?

Indonesia pun mempunyai pabrik nikel terbesar di dunia. Lokasinya di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut). Pabrik ini fokus mengolah nikel sulfat yg merupakan bahan baku prekursor katoda baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi pabrik nikel sulfat di Pulau Obi mencapai 240 ribu ton pertahun. Pabrik anyar ini diresmikan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi 31 Mei 2023.

Pabrik nikel sulfat pertama di Indonesia ini dioperasikan oleh PT Halmahera Persada Lygend, afiliasi dari PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), grup Harita Nickel. Mengutip situs perusahaan, PT Halmahera Persada Lygend dimiliki oleh Harita Nickel melalui PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) sebesar 45,1 persen, Lygend Resources Technology Co. Ltd sebesar 36,9 persen, dan Kang Xuan Pte Ltd sebesar 18 persen. Harita Nickel merupakan bagian dari Harita Group yang mengoperasikan pertambangan dan hilirisasi terintegrasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Malut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X