Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Ada pepatah Inggris yg menarik: Give someone the benefit of the doubt. Pepatah itu, kalau kita tautkan dengan khusnuzon (prasangka baik) relevan sekali. Relevan karena hal seperti itu acap muncul di tengah kita dengan telanjang.
Begini: Berprasangka baik kepada seseorang itu bisa salah. Naif. Bahkan bodoh. Karena orang yg kita sangka baik ternyata bisa culas dan khianat
Namun dalam kehidupan, prasangka baik adalah dasar ketenteraman. Kita tak bisa hidup dalam prasangka buruk dan saling curiga. Maka terkutuklah orang yang menciderai kepercayaan dan prasangka baik dari banyak orang. Dari publik tadi.
Islam mengajarkan, dalam hidup kita perlu berprasangka baik terhadap orang lain. Dalam konteks Langit: Perbuatan Tuhan tergantung prasangka kita.
Jika kita berprasangka bahwa Tuhan Maha Baik, maka bersyukurlah terhadap kejadian yang menimpa kita, apa pun, baik atau buruk. Percayalah akan kasih Tuhan. Tuhan selalu baik.
Maka, jika prasangka baik terhadap orang lain itu keliru dan kita dicederai olehnya, percayalah Tuhan pun akan meresponnya. Orang itu telah mencederai kita dan Tuhan. Balasan setimpal akan diberikan Tuhan pada sang penculas.
Konon, di zaman Mesir Kuno, ada Fir'aun yang berjanji kepada rakyatnya, bahwa setelah dia lengser di masa tuanya, ia akan menyerahkan kepada rakyat siapa penggantinya. Ternyata, ketika uzur, ia minta anaknya untuk menggantinya. Bahkan hukum pun di manipulasi untuk mengangkat anaknya di singgasana kerajaan.
Janji yang telah diucapkan Firaun ternyata bohong belaka. Khusnuzon rakyat terhadap sang Firaun dikhianati oleh penguasa. Maka berakhirlah legacy sang penguasa yang baik itu dengan predikat penguasa culas. Pembohong.
Baca Juga: Baku Tembak Masih Terjadi di Gaza, Houthi Deklarasikan Perang dengan Israel
Give some one the benefit of the doubt berakibat buruk. Masyarakat kehilangan harapan. Sebuah proses regenerasi yang buruk dan zalim, niscaya akan meninggalkan jejak yang buruk dan zalim pula. Sejarah telah mencatat kejadian-kejadian seperti itu secara periodik. Sejak zaman Mesir Kuno sampai kini.
Fenomena seperti itu, mungkin pernah atau sedang terjadi di depan kita. Tak usah masygul. Tunggulah hukum Langit yang bertumpu pada keadilan dan kebenaran. Langit pasti murka terhadap kebohongan dan pengkhianatan yang dipamerkan ke publik tersebut.
Kezaliman dan kebohongan niscaya akan hancur dengan sendirinya. Kita tunggu saja, akhir sebuah tagline dari revolusi mental. Apakah ia membusuk jadi bangkai yang menularkan bakteri patogen. Atau sebelum membusuk ia akan dibuang ke laut? Wait N see.***
Artikel Terkait
Update Terkini Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Polda Jabar Beberkan Hasil Olah TKP Pertama
Spoiler One Piece 1097: Runtuhnya Tirani Kerajaan Sorbet hingga Fakta Baru Monkey D Dragon!
Studio MAPPA Bagikan Visual Terbaru Eren Yeager di Attack on Titan Final Season Part 4
Dubes Iran Didoakan Presiden Jokowi Sukses Tingkatkan Kerjasama Indonesia-Iran
Kenakan Syal Palestina, Dubes Iran Ajak Awak Media Bersimpati untuk Korban di Gaza
Baku Tembak Masih Terjadi di Gaza, Houthi Deklarasikan Perang dengan Israel
Full Spoiler One Piece 1097: Awal Mula Kuma Gabung Tentara Revolusioner, Ginny Diculik Sosok Misterius!