Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara,
Pengamat Ekonomi/Ketua Fraksi PPP DPR RI
SENAYANPOST - Bank Indonesia cemas, Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika (USD). Senin 30 Oktober 2023, nilai USD hampir menyentuh Rp 16 ribu. Tepatnya di angka Rp 15.919. Sebelumnya, USD sempat menyentuh Rp 15.935.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutlan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS bukan karena lesunya mata uang Indonesia. Meski nilai rupiah mendekati Rp16 ribu per dolar AS, kata Sri Mulyani, hal ini terjadi karena memang USD menguat di seluruh dunia.
Presiden Joko Widodo sendiri menegaskan, pelemahan rupiah yang mendekati Rp16 ribu masih cukup aman. Ia meminta masyarakat Indonesia tenang.
Meski rupiah terdepresiasi 0,7 persen, ekonomi Indonesia masih sanggup tumbuh di atas 5 persen. Sektor ril dan finansial, ujar Presiden, masih aman dan terkendali.
Baca Juga: Wejangan dari AM Hendropriyono untuk Pemuda Indonesia di Taman Arum Udumbara
Menkeu mengatakan, pemerintah ingin tetap menjaga pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 persen. Namun "dinamika ekonomi politik" dunia saat ini sangat tinggi. Akibatnya dolar makin menguat, kenaikan suku bunga sangat tinggi di AS dan Eropa, serta terjadi pelemahan ekonomi di China.
Apa yang dikatakan Presiden bahwa sekor ril dan finansial terkendali dan Menkeu akan menjaga pertumbuhan ekonomi kisran 5 persen, sepertinya, perlu usaha sangat keras dan ekstra hati-hati.
Kenapa? Seperti dikatakan Jokowi dan Bu Ani, pelemahan nilai rupiah tersebut akibat pengaruh luar. Dalam hal ini, penguatan suku bunga di AS dan Eropa.
Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian, penurunan IHSG (indeks saham gabungan) dalam beberapa hari terakhir ini. Dari September hingga Oktober 2023, kata Bu Ani, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia cukup deras.
Baca Juga: Kenalkan Taman Arum Udumbara AM Hendropriyono Raih Gelar Rekor Muri
Persoalannya, apakah Indonesia cukup mampu mengantisipasi faktor-faktor global yang berada di luar kendali kita, dalam kondisi ketergantungan pada impor yang cukup tinggi? Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan tindakan serius dan cerdas.
Masyarakat saat ini sudah mulai menjerit akibat harga pangan yang terus naik. Perang Ukraina dan Rusia -- dua negeri lumbung gandum dunia -- mengakibatkan harga pangan berbasis terigu naik. Padahal, terigu adalah kebutuhan pangan nomor dua setelah beras di Indonesia.
Di pihak lain, akibat perang Hamas dan Palestina yang terus berkobar, berpotensi membakar Timur Tengah, produsen minyak dan gas (migas) dunia.
Artikel Terkait
Untungnya Pakai Kendaraan Listrik Busa Hemat Jutaan hingga Miliaran Rupiah
Presiden Jokowi Sumbang Sapi Kurban Terberat Di Sulbar, Seharga Ratusan Juta Rupiah
Israel Serang Rumah Sakit di Gaza Palestina, Kedubes Iran: Kejahatan Perang dan Genosida
Joe Biden Janjikan Bantuan Militer Tambahan Senilai 14 Miliar Dolar AS ke Israel: Ini adalah Investasi Cerdas
Syifa Hadju Demo Bela Palestina di Depan Gedung Kedubes AS dan PBB, Sosoknya Dibilang Mirip Bella Hadid
Indonesia Usulkan Solusi Terkait Konflik Israel dan Palestina di PBB, Retno Marsudi Sampaikan 4 Hal Ini