Opini: Fachry dan Bakrie

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Rabu, 11 Oktober 2023 | 09:13 WIB
Syaefudin Simon (Senayan Post)
Syaefudin Simon (Senayan Post)

Oleh: Syaefudin Simon

SENAYANPOST - Saya mengenal nama Fachry Ali awal 1980-an. Saat itu, sedang ramai-ramainya pembahasan buku Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib yang dieditori Djohan Effendi dan Ismet Nasir.

Saya terkesima saat baca artikel Fachry tentang catatan harian Ahmad Wahib di harian Kompas. Menurut Fachry, pergulatan pemikiran keislaman Wahib merupakan sebuah pencarian makna keberagamaan anak muda yang gelisah melihat fenomena Islam yang kaku, terkungkung, ambigu, dan buntu. Ahmad Wahib mencari jalan untuk memecahkan kebuntuan itu.

Sebagai santri totok asal Madura, Ahmad Wahib yang kuliah di FMIPA UGM, menemukan "pencerahan" ketika bergaul dengan pendeta dan pastor. Ahmad Wahib dalam catatan hariannya memang banyak memuji akhlak pendeta dan pastur yang ramah, humanis, dan membimbing.

Saya sendiri mengritik buku Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib karena (waktu itu saya anggap) merusak akidah Islam. Maklumlah saya masih menjadi "murid" seorang kyai yang mengaku ahli kristologi, Abdullah Wasian, yang sangat piawai menyodorkan kesalahan ayat-ayat di kitab Injil.

Baca Juga: Sempat Beda Pendapat, Perang Israel dan Hamas Bikin Hubungan Benjamin Netanyahu dan Joe Biden Membaik?

Dua kali opini saya tentang Ahmad Wahib dimuat koran Kedaulatan Rakyat Yogya. Mas Djohan sampai mendatangi saya di Asrama Yasma Putra Masjid Syuhada untuk berdiskusi ttg Ahmad Wahib.

Wisuda akhir tahun 1984 dari UGM, saya ke Jakarta. Mas Djohan Effendi mengajak saya ikut diskusi dengan Kelompok Studi Proklamasi (KSP). Di KSP ada Denny JA, Elza Peldi Taher, Budhy Munawar Rachman, dll. Mas Djohan juga mengajak saya ikut kelompok diskusi reboan di Blok M dan di rumahnya dokter Sugiat.

Di sanalah, saya terkagum-kagum dgn pemikiran modern intelektual Islam seperti Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Utomo Dananjaya, Eki Syachrudin, Abdurrahman Wahid, Masdar Mas'udi, dan lain-lain. Di kelompok ini pula saya mengenal sosok pemuda Fachry Ali.

Setiap Fachry Ali, alumnus IAIN Ciputat itu, melontarkan pendapat, semua hadirin diam. Pendapat Fachry selalu out of the box dan kekiri-kirian.

Baca Juga: KPK Periksa Sekjen Kasdi Subagyono terkait Kasus Dugaan Korupsi Kementan

Dalam hati saya, Fachry ini seorang Marxisme yg berbaju Islam. Dalam istilah HMI, Fachry adalah semangka. Kulitnya hijau, isinya merah. Meski pendapat ttg keislaman dari Fachry sering diganyang Cak Nur, tapi Fachry yang pinter dan humoris tetap jalan.

Opini Fachry berhamburan di koran dan majalah terkemuka seperti Kompas dan Tempo. Fachry pun rajin menulis buku. Salah satu bukunya membahas budaya Jawa, padahal dia orang Aceh.

Puluhan buku, bahkan mungkin ratusan, dgn berbagai tema telah ditulis Fachry. Artikelnya sampai hari ini masih terus bermunculan di media massa. Sepeninggal Nurchlolish Madjid dan Dawam Rahardjo, Fachry adalah representasi dari garda depan intelektual Islam Indonesia saat ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X