Cerita Maman -- eh dokter Tolkhah Amaruddin lain lagi. Suatu ketika, seorang kyai dari jam'iyah suatu tarekat datang ke rumahnya di desa Tirtoadi, Mlati, Sleman. Sang kyai tiba-tiba nyeletuk -- dokter kok rumahnya jelek sekali. Sampeyan dokter, rumahnya harus bagus.
Baca Juga: Jelang Sidang PHPU, MK Ungkap Ada Penambahan Saksi dan Ahli, Jadi Berapa?
Beberapa hari kemudian, sang kyai yang nyentrik ini, memberi tahu Maman, telah membelikan tanah di kota Purworejo -- dekat RSUD -- untuk Maman. Kyai itu juga membangun rumah mewah dengan luas tanah seribuan meter persegi. Uniknya, tanah dan rumah itu sudah bersertifikat atas nama Tolkha Amaruddin.
Tak hanya itu. Ketika ada rumah besar di pinggir jalan di Purworejo mau dijual, sang kyai membelinya. Rumah itu pun diserahkan ke Maman lengkap dengan serifikat hak milik atas nama Tolkha Amaruddin.
Maman menjadikan rumah yang kedua sebagai klinik dan apotek. Ajaib memang. Rejeki bagi dokter yang abid ini seperti janji Allah -- min haitsu laa yahtasib. Rejeki datang dari tempat yang tidak diperhitungkan.
Mosok sih ada orang yang tiba-tiba membelikan tanah dan rumah berharga milyaran cuma-cuma seperti fiksi? Fakta memang lebih fiksi dari fiksi. Dan itu terjadi pada Maman. Aku menyaksikannya.
Baca Juga: Temui Jalan Buntu, Israel Penjajah Tolak Usulan Gencatan Senjata dari Hamas
Lanjut! Ketika sang kyai tahu anaknya Maman ada yang kuliah di UGM, kyai itu pun langsung menanggung uang kuliah, buku-buku, plus uang makannya selama di kos-kosan.
Amin, putra Maman, kuliah di Fakultas Pertanian UGM, dengan SPP kategori termahal di UGM, sekitar 18 juta rupiah tiap semester. Maklum ayah ibunya Amin, keduanya dokter spesialis.
Maman spesialis THT dan ibunya, Leli, spesialis kandungan. Menariknya, semua anaknya Maman dan Leli masuk pondok pesantren di Jombang. Adiknya Amin, lulus dari pesantren Jombang dan hafal Quran, kini kuliah di Fakultas Kedokteran UIN Ciputat. Ia pun dapat beasiswa dari kyai unik yang kaya raya tadi.
Tapi yang membuat aku ngiri dari kedua "ponakanku" ini, ibadah spiritual dan ibadah sosialnya luar biasa. Jika aku menginap di rumahnya di Tirtoadi, Sleman, jam tiga malam Maman dan Leli sudah bangun.
Baca Juga: Presiden Rusia Vladimir Putin Bakal Hukum Berat Pelaku Serangan Teror di Crocus City Hall
Mereka solat malam, lalu membaca Quran dan wiridan sampai pagi jelang berangkat ke kantor. Suatu hal yang aku belum bisa melakukannya di usia 65 tahun ini. Padahal Maman dan Leli, usianya belum nyampe 50 tahun. Aku pernah bilang ke Maman. Man kalau aku nginap di rumahmu, perasaanku seperti kebo nyusu gudel.
Aku yang pernah sekolah madrasah di Tegalgubug dan dididik kyai kampung, belum bisa melakukan ibadah sepertimu. Aku mau berguru padamu soal agama yang benar. Maman hanya tersenyum. Ia tahu aku dibesarkan di kampung santri Tegalgubug.
Tapi aku maklum jika Allah belum memberikan rejeki yang muncul tiba-tiba seperti Maman. Salatku belum sekhusu dan serajin Maman. Jejak dosaku masih belum hilang sejak tinggal di Jakarta.