Maman, lulusan Fakultas Kedokteran UGM, kini direktur RSUD Purworejo. Kalau di RSUD, namanya bukan Maman.
Tapi Tolkha Amaruddin, nama yang tertera di KTP-nya. Tante Hafsah, istri almarhum Achmad Munif, sastrawan dan novelis Yogya, pernah datang ke RSUD Purworejo ingin bertemu Maman.
Hafsah masih satu kakek dengan Maman. Jadi masih saudara.
Tante Hafsah sampai putus asa di RSUD, karena tak ada satu pun karyawan dan dokter di sana yang kenal nama Maman. Dalam kondisi bingung, tetiba Maman muncul di lorong RS dan bertemu dengan Hafsah. Hafsah langsung memeluk Maman.
Ia cerita ke Maman, mencari dokter bernama Maman tak ada yang kenal. Maman pun tertawa. Jelaslah gak ada yang kenal, di sini namaku Tolkha Amaruddin. Ujar Maman. Keduanya tertawa terbahak-bahak. Orang rumah sakit pun baru tahu, kalao dokter Tolkha Amaruddin panggilan kecilnya Maman.
Lanjut cerita tiga anak lain yang ditampung keluarga Yayu Kur di kandang jaran. Mereka juga berhasil dalam karirnya. Nanang kini bekerja di PT Badak, Bontang.
Tulus, adiknya Nanang, bekerja di Kemendiknas Jakarta, di direktorat olah raga. Dan Maya, setelah menjadi sarjana ekonomi dari universitas Muhammadiyah Kupang, kini menjadi politisi PPP dan membuka restoran di kota Kupang.
Cerita tentang Tulus, sangat menarik. Rupanya kemampuan silat dari padepokan Pamur berhasil mengantarkan Tulus ke puncak karir sebagai PNS/ASN sekaligus profesional pencak silat.
Tulus kini menjadi pelatih senior pencak silat Percasi (Persatuan Pencak Silat Indonesia). Ketika atlet pencak silat meraih 14 medali emas di Asian Games 2018, hampir semua atlit peraih emas pelatihnya adalah Tulus. Luar biasa.
Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Adopsi Resolusi Gencatan Senjata Segera di Gaza, AS Pilih Abstain
Tulus bercerita kepada Adek, dapat bonus dari Percasi sekitar lima milyar karena keberhasilannya dalam membina atlet sehingga meraih 14 medali emas.
Ade pernah bercerita padaku. Mang Sep (panggilan akrabku di kandang jaran), Tulus sekarang menjadi konsultan pelatih silat di Brunai Darussalam. Ia minta aku berhenti dari Departemen Keuangan.
Untuk jadi pelatih silat saja di Brunai. Tulus yang merekomendasi. Gajinya puluhan kali lipat dari bekerja di Depkeu. Tulus masih menganggap Ade adalah seniornya di padepokan Pamur. Sekarang Tulus, tidak sekadar jadi pelatih pencak silat, tapi juga sudah meraih gelar doktor dari UNJ dengan disertasi masalah persilatan di Indonesia.