Ditulis Bukan untuk Warga Syiah

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:48 WIB
Avatar Mush'ab Muqoddas Pimred Senayan Post
Avatar Mush'ab Muqoddas Pimred Senayan Post

Keempat ulama tersebut konsisten dengan pesan Imam Abu Hasan Al Asy’ari untuk tidak mengkafirkan sesama Ahlul Qiblah. Grand Syaikh Al Azhar Prof Ahmad Ath Thayib bahkan menyerukan perdamaian dengan tema Nida Ahlil Qiblah untuk perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Artinya, Grand Syaikh Al Azhar Prof Ahmad Ath Thayib dan para ulama Al Azhar tidak pernah menganggap warga Syiah di luar Umat Islam. Perbedaan pemahaman fikih dan teologi tidak lantas mendorong para ulama Al Azhar untuk mengkafirkan, bahkan jika itu hanya perbedaan pilihan politik.

Kita melihat peperangan yang terjadi di kawasan Teluk Arab saat ini, tidak ada alutsista milik Negara Teluk Arab yang menyerang ke wilayah Iran, baik itu pesawat, kapal, tank, bahkan rudal. Hanya alutsista milik Amerika Serikat dan Israel yang melancarkan serangan ke arah wilayah Iran.

Jika kita lihat pada tahun 2022 lalu, Iran dan Arab Saudi difasiltasi oleh China memulihkan hubungan diplomatik menandai awal baru hubungan kedua negara yang kembali memanas setelah naiknya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Kesepakatan pengayaan uranium yang digagas oleh pendahulunya, Barrack Obama, justru dicabut secara sepihak.

Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Arab di periode kedua Presiden Amerika Serikat Barrack Obama justru membaik. Bahkan, negara-negara Teluk Arab dalam periode tersebut menjalin kembali hubungan dengan China di sektor ekonomi dan Rusia di sektor militer.

Hemat penulis, Arab Saudi dan negara-negara Teluk Arab sebenarnya letih dengan perang yang terus dipaksanakn oleh Amerika Serikat dan Israel. Pihak yang mengambil keuntungan adalah korporasi-korporasi migas dan produsen senjata di Amerika Serikat, serta Benjamin Netenyahu yang korup dan takut kasus-kasus korupsinya mulai disidangkan di pengadilan.

Kondisi suatu negara dan suatu kawasan, akan sangat tergantung dengan kondisi dan hubungan dengan negara-negara sekitarnya. Maka dari itu, memperbaiki hubungan dengan Iran seperti yang difasilitasi oleh China, merupakan salah satu alternatif, agar proyek-proyek pembangunan di Arab Saudi yang digagas Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz Al Saud, dapat berjalan tanpa tergantung dengan komoditas minyak dan gas.

Selain itu, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Arab Saudi di tahun 2025 lalu dalam rangka ‘diplomasi haji’ membuka kembali konsep Makkah sebagai kota megapolitan, di mana setiap Negara Islam nantinya memiliki kontribusi dalam pembangunan Makkah, termasuk itu Indonesia dan Iran. Isu Syiah juga tidak lagi dominan di Arab Saudi, mengingat salah satu anggota kabinet yaitu Menteri Investasi Arab Saudi yaitu Fahd Al Saif merupakan seorang Syiah. Ini menandakan Arab Saudi telah melepas narasi-narasi sektarian, baik untuk politik dalam negeri atau politik luar negeri.

Akan menjadi sangat disayangkan, jika masih ada pihak yang menarasikan permusuhan atas dasar sektarian, seperti rasa permusuhan dan persekusi atas Warga Syiah dan Warga Ahmadiyah. Nasionalisme Bangsa Indonesia dibangun tidak dari pengelompokan golongan atas dasar agama atau kesukuan, yang hanya melahirkan komunitas mayoritas dan komunitas minoritas, karena istilah itu akan menyesatkan dan meletupkan konflik di berbagai daerah dalam waktu yang bersamaan.

Kita sering mendengar semisal larangan pendirian suatu gereja di daerah tertentu, dan di waktu yang sama kita mendengar larangan pendirian masjid di daerah tertentu. Kebhinekaan adalah realitas yang patut dijaga. Jika diksi mayoritas dan minoritas masih berkembang, konflik komunal akan ters terjadi dan tidak akan selesai.

Berbeda jika jika sudah selesai dengan memahami realitas kebhinekaan yang merupakan sunnatullah dan menjadi fitrah kemanusiaan. Maka konflik atas dasar sektarian tidak akan pernah terjadi lagi di Indonesia.

Tentunya, perang di Timur Tengah perlu kita amati dan kita petik pelajaran agar tidak terjadi di Indonesia. Bukan justru memperluas konflik di Timur Tengah ke wilayah Indonesia.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Ditulis Bukan untuk Warga Syiah

Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:48 WIB

Neo-Sundanisme: Proyek Peradaban Dedi Mulyadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 19:50 WIB

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB
X