Soemitronomics di Tengah Badai Timur Tengah (Jalan Indonesia Menuju Kedaulatan Industri)

photo author
AM Hendropriyono, Senayan Post
- Jumat, 13 Maret 2026 | 10:17 WIB
AM Hendropriyono sampaikan pemikiran tentang Soemitronomics (Senayan Post)
AM Hendropriyono sampaikan pemikiran tentang Soemitronomics (Senayan Post)

SENAYANPOST - Di tengah gejolak geopolitik dunia saat ini, Timur Tengah kembali menjadi kawasan yang menentukan stabilitas ekonomi global. Konflik yang berulang, ketegangan jalur energi, serta perubahan strategi negara-negara Teluk menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi pasar energi dan perdagangan internasional. Bagi banyak negara industri, kawasan ini adalah sumber risiko. Namun bagi Indonesia, kawasan tersebut juga dapat dibaca sebagai sumber peluang strategis, apabila dipahami melalui kerangka pemikiran ekonomi pembangunan yang dirumuskan oleh Sumitro Djojohadikusumo. Pemikiran ekonomi Sumitro pada dasarnya berpijak pada satu gagasan utama: negara harus memimpin transformasi struktural ekonomi dari ketergantungan pada komoditas menuju industrialisasi nasional yang berdaulat. Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, pendekatan ini menjadi sangat relevan karena kawasan tersebut memegang tiga faktor penting bagi pembangunan Indonesia: energi, modal, dan pasar.

Energi sebagai Fondasi Industrialisasi

Tidak ada industrialisasi tanpa energi yang stabil dan terjangkau. Kawasan Timur Tengah masih merupakan pusat utama pasokan minyak dan gas dunia. Dalam kerangka Soemitronomics, hubungan Indonesia dengan kawasan ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hubungan dagang energi, tetapi sebagai strategi keamanan industrial nasional.

Indonesia perlu membangun kontrak energi jangka panjang, memperkuat cadangan energi strategis, serta mengembangkan kerja sama petrokimia dan kilang bersama negara-negara Teluk. Dengan cara ini, energi tidak sekadar menjadi komoditas impor, melainkan input strategis bagi industrialisasi nasional.

Petrodollar sebagai Mesin Transformasi Industri

Negara-negara Teluk saat ini mengelola surplus modal yang sangat besar melatui sovereign wealth funds. Dalam logika Soemitro, modal asing dapat menjadi alat pembangunan nasional apabila diarahkan secara selektif. Investasi dari kawasan tersebut seharusnya diarahkan pada sektor yang memperkuat struktur ekonomi Indonesia, seperti:

industri petrokimia, kilang minyak dan gas, industri pupuk dan logam, kawasan industri ekspor, logistik pelabuhan dan energi.

Dengan pendekatan ini, modal dari Timur Tengah tidak hanya masuk sebagai investasi portofolio atau properti konsumtif, tetapi menjadi mesin pembentukan kapasitas industri nasional.

Pasar Timur Tengah dan Ekspansi Industri Indonesia

Selain energi dan modal, Timur Tengah juga merupakan pasar penting bagi produk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut membuka peluang bagi ekspor Indonesia dalam sektor makanan halal, farmasi halal, tekstil, bahan bangunan, serta jasa konstruksi. Dalam kerangka Soemitronomics, ekspansi pasar seperti ini penting karena memperbesar skala produksi nasional. Industri yang berorientasi ekspor akan lebih cepat menyerap teknologi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Mengelola Risiko Geopolitik

Konflik di Timur lengah sering kali mempengaruhi jalur perdagangan global, khususnya rute energi dan logistik internasional. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, risiko ini tidak boleh diabaikan. Negara perlu membangun ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi jalur perdagangan, penguatan logistik nasional, serta pengembangan industri domestik yang mengurangi ketergantungan pada impor strategis. Dengan demikian, gejolak geopolitik tidak langsung mengguncang fondasi ekonomi nasional.

Diplomasi Ekonomi yang Pragmatis

Pemikiran Sumitro juga menekankan bahwa hubungan ekonomi internasional harus bersifat pragmatis dan berorientasi pada kepentingan nasional. Indonesia perlu menjaga hubungan ekonomi yang seimbang dengan berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia memanfaatkan peluang global tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik antar blok kekuatan besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X