Oleh Rikal Dikri, PWNU DKI Jakarta
Syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran telah mengguncang konstelasi politik Timur Tengah. Terlepas dari perdebatan faktual dan politis yang mengiringinya, isu ini memunculkan satu pertanyaan mendasar: ke mana arah rekonstruksi Dunia Islam ketika salah satu simbol utama perlawanan terhadap dominasi global dinyatakan tumbang? Momentum ini bukan sekadar soal figur, melainkan tentang arsitektur kekuasaan, legitimasi ideologis, dan masa depan tatanan geopolitik kawasan.
Selama lebih dari tiga dekade, memosisikan diri sebagai poros resistensi terhadap hegemoni dan aliansinya dengan . Dalam lanskap Timur Tengah yang ditandai fragmentasi politik, rivalitas sektarian, dan ketergantungan keamanan pada kekuatan eksternal, Iran tampil sebagai negara yang secara terbuka menolak arsitektur keamanan berbasis dominasi Barat. Doktrin pertahanan asimetris, pengembangan rudal balistik, serta jaringan aliansi non-negara menjadi instrumen strategis untuk menciptakan daya tangkal terhadap intervensi langsung.
Syahidnya Khamenei—apabila diposisikan sebagai realitas politik—akan menjadi ujian pertama bagi soliditas internal Republik Islam. Sistem politik Iran tidak bertumpu pada satu individu semata, melainkan pada struktur kelembagaan seperti Dewan Ahli (Wilayat al-Faqih) dan Garda Revolusi (IRGC). Namun dalam praktiknya, figur Rahbar memiliki bobot simbolik yang besar sebagai penjaga ideologi Revolusi 1979. Karena itu, peralihan kepemimpinan berpotensi membuka dua kemungkinan: konsolidasi yang lebih kuat melalui mekanisme institusional, atau friksi internal yang dimanfaatkan aktor eksternal.
Dalam perspektif geopolitik, kematian seorang pemimpin yang dianggap ikon perlawanan sering kali dibaca oleh lawan sebagai peluang strategis. Sejarah intervensi di kawasan, mulai dari Irak hingga Libya menunjukkan bahwa perubahan rezim kerap dijustifikasi atas nama demokratisasi, tetapi berujung pada instabilitas berkepanjangan. Jika pola serupa dicoba terhadap Iran, responsnya hampir pasti berbeda. Struktur militer dan kapasitas teknologi pertahanan Iran telah berkembang jauh melampaui negara-negara yang sebelumnya menjadi sasaran perubahan rezim. Dengan demikian, asumsi bahwa transisi kepemimpinan otomatis melemahkan negara adalah simplifikasi yang tidak memadai.
Baca Juga: Curhat WNI Asal Gresik yang Kerja di Jerman, Cemaskan Jika Negara Eropa Ikut Bantu Israel Lawan Iran
Di sisi lain, dunia Arab menghadapi dilema struktural. Sejumlah negara Teluk menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat, menjadikan keamanan mereka terintegrasi dengan arsitektur pertahanan Washington. Ketergantungan ini menciptakan paradoks: stabilitas jangka pendek dijaga melalui proteksi eksternal, tetapi otonomi strategis menjadi terbatas. Dalam konteks ini, Iran dipandang bukan hanya sebagai ancaman militer, tetapi juga sebagai ancaman terhadap status quo regional yang telah mapan.
Kendati demikian, Rekonstruksi Dunia Islam pasca syahidnya Khamenei, tidak semata berkaitan dengan siapa penggantinya, melainkan bagaimana umat Islam memaknai kedaulatan dan solidaritas. Polarisasi Sunni–Syiah yang selama ini dipelihara oleh rivalitas geopolitik perlu direduksi menjadi dialog intra-peradaban. Konflik berkepanjangan hanya memperdalam fragmentasi, sementara aktor eksternal tetap menjadi penentu akhir permainan. Tanpa kesadaran kolektif untuk membangun arsitektur keamanan regional yang inklusif, Dunia Islam akan terus menjadi arena proxy.
Dimensi ekonomi juga tak kalah krusial. Kawasan Timur Tengah menguasai jalur vital energi global, termasuk , yang menjadi nadi distribusi minyak dunia. Setiap eskalasi di sekitar selat ini berdampak langsung pada harga energi internasional. Dengan demikian, stabilitas Iran bukan hanya isu regional, tetapi kepentingan global. Rekonstruksi Dunia Islam harus memasukkan agenda integrasi ekonomi, diversifikasi energi, dan kerja sama teknologi agar tidak semata bergantung pada ekspor komoditas mentah.
Dari perspektif strategis, konflik Iran–Israel bukan sekadar perseteruan bilateral. Ia adalah manifestasi pertarungan narasi: antara konsep keamanan berbasis dominasi dan konsep keamanan berbasis keseimbangan. Israel mengembangkan sistem pertahanan berlapis untuk menjaga superioritasnya, sementara Iran mengandalkan deterrence asimetris untuk menciptakan efek jera. Ketika dua model ini berhadapan, kawasan berada dalam kondisi keseimbangan yang rapuh. Syahidnya Khamenei, bisa menjadi katalis perubahan doktrin—baik menuju eskalasi maupun reposisi yang lebih pragmatis.
Baca Juga: Viral Isi Ceramah Cak Nun di 2012 soal Perang Israel vs Iran yang Menyeret Amerika Serikat
Namun rekonstruksi tidak selalu berarti konfrontasi lanjutan. Ada kemungkinan bahwa transisi kepemimpinan membuka ruang diplomasi baru. Politik internasional mengenal konsep “window of opportunity,” yakni momen ketika perubahan internal memungkinkan redefinisi hubungan eksternal. Jika elit Iran memilih jalur konsolidasi domestik dan stabilisasi ekonomi, pendekatan luar negeri yang lebih terukur bisa menjadi opsi. Sebaliknya, tekanan eksternal yang berlebihan justru akan memperkuat faksi garis keras.
Dunia Islam perlu belajar dari pengalaman dekade terakhir. Arab Spring menunjukkan bahwa perubahan rezim tanpa fondasi institusional yang kuat sering kali menghasilkan kekosongan kekuasaan. Suriah, Libya, dan Yaman menjadi contoh bagaimana konflik internal bertransformasi menjadi perang proksi yang melelahkan. Rekonstruksi pasca syahidnya Khamenei harus menghindari jebakan serupa. Stabilitas tidak identik dengan otoritarianisme, tetapi juga tidak otomatis lahir dari intervensi eksternal.
Peran negara-negara Muslim non-Arab, termasuk Indonesia, menjadi relevan dalam konteks ini. Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki legitimasi moral untuk mendorong dialog lintas mazhab dan lintas negara. Politik luar negeri bebas dan aktif dapat menjadi jembatan antara blok-blok yang berseberangan. Dunia Islam membutuhkan mediator internal, bukan sekadar penonton atau partisan.
Artikel Terkait
Dubes Iran di Indonesia Ungkap Iran Tak Lagi Percaya Lakukan Perundingan dengan Amerika Serikat
Konflik AS dan Iran Memanas, Rizal Mallarangeng: Rusia dan Tiongkok Tak Akan Turun Tangan Militer
Viral Pidato Terakhir Ali Khamenei Sebelum Gugur di Teheran, AS Selama 46 Tahun Lalu Tak Mampu Lenyapkan Iran
Agnez Monica Perlihatkan Kondisi Kota Dubai dari Apartemennya dsn Tepis Kecemasan Publik Soal Kondisi Timur Tengah
Curhat WNI Asal Gresik yang Kerja di Jerman, Cemaskan Jika Negara Eropa Ikut Bantu Israel Lawan Iran