Islam dan Musik: Teriakan Sukatani yang Gemparkan Rezim

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 12 Maret 2025 | 22:10 WIB

Ironisnya, ketika suara rakyat semakin nyaring, justru menjadi badai besar bagi sang vokalis perempuan yang berprofesi sebagai guru. Vokalis tersebut dipecat dari profesinya dengan alasan yang tidak logis, yaitu jilbab. Pemecatan ini merupakan bentuk dari pembungkaman kritik sosial yang bukan hanya penghukuman personal, tetapi juga sinyal bagi siapa pun yang berani bersuara bahwa konsekuensi menunggu mereka yang mencoba melawan arus kekuasaan.

Namun jika kita berkaca dari sejarah, Kasus pembungkaman kritik sosial bukanlah fenomena baru. Banyak musisi, seniman, dan aktivis telah mengalami represi serupa. Misalnya, di Indonesia, pembredelan media di era Orde Baru menjadi bukti nyata bahwa kebebasan berbicara selalu berada dalam ancaman ketika bertentangan dengan kepentingan penguasa. 

Seni dan musik telah lama menjadi sarana perlawanan yang ditakuti oleh rezim otoriter karena memiliki kemampuan membangkitkan kesadaran kolektif rakyat. Lagu-lagu seperti yang dinyanyikan oleh Sukatani adalah ekspresi perlawanan terhadap sistem yang menindas, dan respons represif dari negara hanya memperkuat fakta bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia masih bersyarat.

Fatimah Mernissi dalam bukunya“Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry” (1991 M) membahas bagaimana Islam sejatinya membela hak-hak perempuan, tetapi dalam praktiknya sering kali digunakan oleh struktur kekuasaan untuk membatasi peran perempuan dalam masyarakat.

Dalam ruang publik perempuan sering kali menjadi objek represi sistemik.  Hal ini ditunjukkan dari kasus yang menimpa band Sukatani, pemecatan vokalis karena jilbab bisa dibaca sebagai bentuk kontrol atas tubuh perempuan dan sebagai upaya membungkam suara yang dianggap mengancam tatanan status quo. 

Sejarah telah menunjukkan bahwa pembungkaman kritik sosial selalu berujung pada perlawanan yang lebih besar. Seperti kasus pembredelan media di era Orde Baru yang justru melahirkan gerakan reformasi, tekanan terhadap Sukatani dapat menjadi pemicu kesadaran sosial yang lebih luas.

Refleksi terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Indonesia

Sejauh mana demokrasi di Indonesia benar-benar berpihak kepada rakyat kecil? Pertanyaan ini sangat relevan untuk dikaitkan pada kasus band Sukatani yang sedang dibahas. 

Di tengah tekanan yang datang silih berganti, band Sukatani akhirnya mengeluarkan permintaan maaf. Hal ini menimbulkan pertanyaannya, apakah permintaan maaf itu benar-benar tulus atau sekadar strategi untuk meredakan tekanan? Ketika seseorang dipaksa meminta maaf atas kritik yang disuarakan, itu bukan lagi permintaan maaf melainkan bentuk persekusi terhadap kebebasan berbicara. 

Sayyid Qutb dalam “Ma'alim fi at-Tariq” (1964 M) membahas bagaimana sistem pemerintahan yang menindas harus dilawan melalui pemikiran dan ekspresi, termasuk dalam bentuk seni. Jika seni mulai dikontrol oleh negara, maka kita sedang bergerak menuju otoritarianisme terselubung. 

Pemecatan vokalis bukan hanya serangan terhadap individu, tetapi juga pesan bagi semua perempuan bahwa ada batasan terhadap apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan dalam struktur kekuasaan.

Kasus Sukatani bukanlah tanda stabilitas negara, melainkan kepanikan atas semakin kuatnya suara rakyat. Sejarah telah mencatat, kasus Wiji Thukul, seorang penyair yang hilang karena kritiknya terhadap rezim Orde Baru, adalah contoh nyata bagaimana negara yang takut terhadap suara rakyat cenderung menggunakan aparatusnya untuk membungkam individu-individu yang berbicara tentang kebenaran.

Demokrasi yang Palsu

Demokrasi seharusnya memberi ruang bagi kritik, bukan menghukum mereka yang berani berbicara. Kritik sosial seperti lagu Bayar Bayar Bayar bukan hanya ekspresi seni, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Kasus ini bukan hanya tentang seorang guru yang kehilangan pekerjaannya, tetapi tentang bagaimana kebebasan berbicara terus ditekan di negeri yang mengklaim demokrasi.

Negara yang demokrasi tidak seharusnya takut pada kritik. Kritik adalah esensi dari pemerintahan yang sehat. Jika kebebasan berbicara terus ditekan, kejujuran terus dihukum, maka rakyat kecil akan selalu menjadi korban. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X