Nafi’atul Ummah
Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU)
Band Sukatani merilis album pertamanya bertajuk Gelap Gempita pada 24 Juli 2023. Album ini berisi 8 lagu, dan salah satu lagu berjudul Bayar Bayar Bayar yang dirilis oleh grup band Sukatani menggambarkan realitas pahit kehidupan rakyat kecil. Dengan satire yang kuat, lagu ini memberikan kritik tentang beban ekonomi masyarakat, sistem kedaulatan yang korup, dan ketidakadilan yang dibiarkan merajalela.
Namun, setelah lagu ini meledak di publik, alih-alih disambut sebagai ekspresi kebebasan berpendapat, lagu Bayar Bayar Bayar justru menjadi bumerang untuk band Sukatani. Berbagai tekanan muncul, terutama dari Dit Siber Polda Jateng yang merasa tersinggung dengan lirik lagu tersebut yang dianggap mengundang kontroversi.
Bukannya menanggapi kritik dengan introspeksi dan menjadikannya sebagai bahan refleksi, Dit Siber Polda Jateng justru merespons secara represif dengan menekan band Sukatani, memaksa permintaan maaf, serta menciptakan atmosfer ketakutan yang berujung pada pemecatan vokalisnya yang berprofesi sebagai guru.
Imam Al-Ghazali dalam karyanya “Ihya Ulumuddin” (1096-1106 M) membahas pentingnya menegakkan keadilan dan mengingatkan penguasa agar tidak bertindak sewenang-wenang.
Ironi, dalam negara yang mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi, kritik sosial seharusnya dihargai sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Namun, realita yang terjadi justru menunjukkan bahwa kejujuran sering kali dibungkam, terutama jika menyentuh kepentingan kelompok elite yang berkuasa. Dan gambaran dari kasus Sukatani ini menjadi cerminan bahwa demokrasi di Indonesia masih bersifat semu.
Kesenjangan Sosial dan Kritik dalam "Bayar Bayar Bayar"
Lirik lagu Bayar Bayar Bayar menggambarkan realitas pahit yang dihadapi oleh rakyat kecil. Lagu ini menjadi simbol kehidupan dari rakyat kecil yang sering kali menghadapi eksploitasi serta ketidakadilan ekonomi.
Lagu ini memiliki nuansa kritik sosial yang tajam, menyoroti bagaimana rakyat kecil tidak hanya dituntut untuk bekerja keras, tetapi juga harus menghadapi berbagai beban ekonomi yang terus menumpuk semisal rakyat harus membayar polisi di setiap perkara yang mereka kerjakan.
Kasus ini semakin memperjelas bahwa ketimpangan ekonomi bukanlah sekadar konsekuensi dari kapitalisme, tetapi juga hasil dari sistem yang sengaja mempertahankan ketidakadilan untuk kepentingan segelintir orang di puncak kekuasaan.
Berbagai upaya dilakukan oleh Dit Siber Polda Jateng untuk menekan band Sukatani. Namun, fakta lapangan menunjukkan, setelah permintaan maaf dipublikasikan, lagu "Bayar Bayar Bayar" ditarik dari Spotify, seolah-olah keberadaannya adalah ancaman yang harus dilenyapkan. Tindakan ini justru memperbesar gelombang perlawanan. Bukannya tenggelam kasus ini semakin viral dan lagu tersebut malah dinyanyikan oleh mahasiswa dalam aksi demonstrasi.