SENAYANPOST - WOAG Malaysia bekerja sama dengan Universiti Malaya menggelar seminar internasional bertajuk “Madani International Conference: Ummatan Wasata Towards Harmony Development and Global Peace”.
Acara tersebut digelar pada 18 September 2024 lalu.
Bertempat di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, dan dihadiri oleh para cendekiawan dan tokoh agama terkemuka dari Malaysia, Indonesia dan juga Thailand.
YB Senator Dato’ Setia Dr. Haji Mohd Naim Bin Mukhtar, Menteri Agama Malaysia, bersama Prof. Dato’ Dr. Mohd Fakhrudin Abdul Mu’thi, Presiden WOAG Malaysia dan Dekan Fakulti Ushuludin Unissa hadir sebagai narasumber utama dalam seminar tersebut.
Adapula beberapa tokoh lain yang hadir sebagai narasumber, di antaranya adalah.
Prof. Dr. Mohd Fauzi Hamat, Dekan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Dr. Muchlis M. Hanafi MA, Sekjen OIAA Indonesia, serta tokoh internasional seperti Prof. Dr. Abbas Shouman dari Mesir dan Prof. Dr. Salama Dawood, Rektor Universitas Al-Azhar Mesir.
Baca Juga: Peradilan Agama Yahudi di Kerajaan Maroko
TGB Dr. M. Zainul Majdi MA, Ketua OIAA Indonesia, menyampaikan makalah yang berjudul “Al-Wasatiyyah wal Maqashid” dalam seminar itu.
Zainul Majdi menjelaskan bahwa wasathiyyah tidak hanya satu metode dalam berislam tetapi juga cara untuk menjalani kehidupan.
Diawal penjenlasnya ketua OIAA Indonesia, menerangkan bahwa wasathiyyah memiliki 5 karakter utama, yakni Al Khairiyah l, Al adalah wal hikmah, Istiqomah, bayniyyah, dan raf’ul haraj.
Baca Juga: TASAWUF (III)
Tgb juga memberikan penekanan terkai pentingnya pendekatan wasatiyyah untuk mencapai maqashid syariah yang bertujuan untuk menjaga lima prinsip utama kehidupan manusia, yakni agama, jiwa, akal, harta benda, dan kehormatan.
Untuk mencapai tujuan syariah, diperlukan keseimbangan dan keselarasan berpikir dan bertindak.
Artikel Terkait
Cerita Tentang Ponpes IT Jonggol dan Madinatul Qur'an Milik Bintang Film
Mulai Legalkan Ganja, Raja Maroko Berikan Amnesti untuk Petani Ganja
Dua Macam Pembenci Mantan Teroris, Salah Satunya Paling Berbahaya
KESETARAAN: PELAJARAN DARI HAJI
TASAWUF (I)