Baca Juga: Perjuangan Dakwah Islam di Ranah Minang
Tafsir Jalālain bukanlah karya tafsir yang diarahkan untuk membahas pelik-pelik masalah sebagaimana Tafsir Imam al-Fakhr al-Rāzi, Tafsir al-Kasysyāf karya Imam al-Zamakhsyari, atau Tafsir al-Bahr ul-Muhith karya Imam Fairuz al-Zabadi.
Dilihat dari kontennya, Tafsir al-Jalalain lebih banyak memfokuskan pembahasan kepada makna kebahasaan terhadap al-Qur'an.
Di beberapa ayat, kedua penulis menampilkan penjelasan singkat tanpa menyertakan uraian sejarah sebagaimana biasa disampaikan di dalam karya-karya besar.
Baca Juga: Refleksi Ansor Maluku Menyambut Harlah GP Ansor ke-90
Tafsir Jalālain bukanlah karya ensiklopedis sebagaimana diharapkan kalangan akademisi yang kritis akal dan kejiwaannya.
Dilihat dari konteks zamannya, tafsir Jalālain dimaksudkan sebagai bahan belajar bagi para pemula yang ingin memahami al-Qur'an.
Sehingga bukan merupakan sikap yang adil pula jika kita "memaksa" agar pandangan di dalam Tafsir Jalalain harus memenuhi hipotesa Albert Einstein tentang energi.
Baca Juga: Opini: Malaikat dari Kandang Jaran Itu Telah Pergi
Kekeliruan di dalam melihat posisi Imam al-Suyūthi dikhawatirkan akan menumbuhkan semangat memotong alur sejarah umat karena dianggap melestarikan aqidah "bermasalah". Ini pada akhirnya akan melahirkan generasi yang ahistoris sekaligus anti historis.
***
Artikel Terkait
Sudah Salat Tarawih dan Salat Witir Bolehkan Salat Tahajud?
Tren Salat Tarawih Ala Madinah, Begini Baiknya
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Lalat yang Memberikan Surga