Opini: Indonesia pada Tahun 2023 | oleh AH Hendropriyono

- Senin, 6 Maret 2023 | 14:56 WIB
AM Hendropriyono
AM Hendropriyono

SENAYANPOST - Suhu politik di tahun baru 2023 akan naik sesuai dengan kondisi negara, yang dalam persiapan menghadapi Pemilu di lingkungan dunia yang situasinya semakin tidak menentu.

Suatu kejadian besar dalam aspek geopolitik tahun lalu adalah perang proxy antara Ukraina dengan Rusia.

Perang fisik militer yang menjadi perang berlarut tersebut berimbas pada inflasi 10% bahkan ada yang di atas 20%, ditambah lagi dengan terjadinya krisis terhadap pasokan energi di benua Eropa.

Nilai mata uang Euro dan Pound Sterling telah turun sampai nyaris setara dengan dolar AS diikuti oleh jatuhnya bitcoin 75%, dan semua jenis uang crypto yang nilainya turun rata-rata duapertiga.

Perang berlarut yang bersifat hibrida hampir berlalu dan sekarang semakin condong menjadi perang dunia finansial yang menyerang dominasi AS, menyengsarakan Eropa dan telah mengakibatkan kesulitan bagi hampir semua negara di dunia.

Baca Juga: KPU RI Siapkan Berkas Banding setelah PN Jakarta Pusat Kabulkan Gugatan Partai Prima terkait Pemilu 2024

Kegalauan dunia terutama di belahan bumi wilayah Selatan terhadap pembekuan kolektif secara institusional terhadap Rusia yang merupakan anggota G20, dianalisa oleh banyak pengamat akan dapat terjadi juga pada siapa saja dengan sewenang-wenang tanpa hukum internasional yang adil.

Situasi di Eropa sejak pertengahan tahun 2022 telah menimbulkan frustrasi, sehingga dalam waktu 2 (dua) bulan sudah 3 (tiga) orang Perdana Menteri Inggris yang mengundurkan diri pasca wafatnya Ratu Elizabeth II.

Perang merupakan bentuk pelanggaran etika universal, namun perang antar bangsa selalu terjadi akibat hukum internasional bukan merupakan hukum sebenarnya.

Hukum tersebut tidak dibentuk oleh sesuatu Badan Legislatif Internasional, sehingga tidak dapat dipaksakan untuk ditaati oleh para belligrents.

Baca Juga: Upacara Militer Pemakaman Azwar Anas di TMP Kalibata Dipimpin Oleh AM Hendropriyono

Ketidak taatan negara-negara non-Barat disebabkan penegakkannya tergantung pada satu kekuatan adikuasa yang pragmatik, sehingga kerapkali dinilai sebagai hukum rimba yang tidak mendatangkan rasa keadilan.

Perdamaian di Eropa kini hanya mungkin diharapkan jika keseimbangan daya tempur yang saling berhadapan tercapai, yaitu bilamana Ukraina didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS) dan NATO atau bangsa Barat, melawan Rusia yang sendirian tanpa adanya bantuan militer dari China.

Kemungkinan akan adanya bantuan tersebut juga ancaman perang nuklir di Eropa harus dihindari oleh Barat, sehingga terdapat usaha pergeseran geopolitik dari benua Eropa ke benua Asia.

Regions Asia Tenggara dan Asia Timur dijadikan medan perang pengganti, sebagai langkah geostrategi dari berbagai alternatif cara bertindak (alternative courses of action) yang dinilainya terbaik.

Halaman:

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X