SENAYANPOST – Upaya Amerika Serikat dalam melemahkan pengaruh Iran tidak lagi hanya mengandalkan serangan militer secara langsung.
Washington kini dilaporkan sedang melancarkan strategi diplomatik dan ekonomi besar-besaran untuk membujuk negara-negara tetangga Iran agar menjauhi Teheran dan bergabung dalam koalisi anti-Iran.
Dosen Universitas RUDN, Farhad Ibragimov menulis analisis dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Russian Today pada Senin, (16/3/26). Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat sedang menerapkan model "tekanan berlapis". Strategi ini bertujuan untuk memutus hubungan Teheran dengan dunia luar dan mengepungnya dengan negara-negara lawan agar ruang gerak Iran semakin terbatas.
Konflik Kepentingan dan Sikap Negara Tetangga
Bagi pembaca awam, strategi isolasi ini berarti Amerika Serikat mencoba mengajak negara-negara Arab di sekitarnya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, untuk tidak lagi bekerja sama dengan Iran. Harapannya, jika negara-negara tetangga berpaling, kekuatan ekonomi dan politik Iran akan melemah secara perlahan.
Baca Juga: Pasokan Minyak Terhenti Pasca Penangkapan Maduro, Kuba Alami Pemadaman Listrik Total
Namun, Ibragimov mencatat bahwa rencana ini tidak semudah yang dibayangkan oleh Washington. Ia menyoroti bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Iran justru berhasil memperbaiki hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab, termasuk pemulihan hubungan dengan Arab Saudi pada tahun 2023 yang difasilitasi oleh Irak dan Tiongkok.
"Negara-negara di kawasan tersebut tampaknya tidak cenderung untuk melakukan eskalasi atau peningkatan ketegangan lebih lanjut," tulis Ibragimov dalam laporannya yang dikutip oleh Russian Today.
Tantangan Diplomatik dan Isu Keamanan
Selain negara-negara Arab, Amerika Serikat juga mencoba mempengaruhi Turki, Azerbaijan, dan Pakistan. Ibragimov mengungkapkan adanya upaya dari "kekuatan luar" untuk menciptakan ketegangan buatan melalui penyebaran berita bohong atau disinformasi. Contohnya adalah munculnya laporan palsu mengenai serangan pesawat tanpa awak (drone) Iran ke Azerbaijan yang sempat memicu kemarahan Presiden Ilham Aliyev.
Meskipun sempat memanas, ketegangan tersebut mereda setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, segera melakukan komunikasi diplomatik untuk mengklarifikasi situasi. Azerbaijan bahkan merespons dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Iran, yang menunjukkan bahwa mereka lebih memilih jalur damai daripada konfrontasi militer.
Baca Juga: Langkah Krusial, Hamas Gelar Pertemuan Rahasia dengan Dewan Perdamaian Trump Bahas Masa Depan Gaza
Ibragimov menekankan bahwa meskipun Amerika Serikat terus mendesak agar kawasan tersebut menyatakan perang terhadap Iran, sentimen publik di banyak negara Arab justru sering kali bersimpati kepada Iran dalam menghadapi tekanan Barat.
"Situasi saat ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terjadi di tingkat militer: kita sedang melihat perjuangan diplomatik yang signifikan untuk memperebutkan kesetiaan negara-negara di sekitar Iran," pungkas Ibragimov.
Artikel Terkait
Netanyahu Akui Israel Ingin Rakyat Iran Gulingkan Rezim di Teheran
Analisis Strategi dan Opsi Kebijakan Buntut Eskalasi Konflik di Iran
Strategic Analysis and Policy Options Following the Escalation of the Conflict in Iran
Kenang 175 Anak Korban Serangan AS–Israel di Minab, Kedubes Iran Gelar Doa Bersama
Kedubes Iran Kecam Serangan AS dan Israel yang Tewaskan 175 Siswi SD di Minab