SENAYANPOST – Kelompok militan Palestina, Hamas, dilaporkan telah melakukan pembicaraan pertama dengan "Dewan Perdamaian" (Board of Peace) bentukan Amerika Serikat. Pertemuan ini menandai langkah krusial sekaligus penuh tantangan dalam rencana besar Presiden Donald Trump untuk membangun kembali wilayah Gaza setelah konflik panjang.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Russian Today pada Senin, (16/3/26), pertemuan tersebut berlangsung secara rahasia di sebuah lokasi yang tidak disebutkan. Fokus utama pembicaraan adalah upaya menyelamatkan inisiatif perdamaian Trump, termasuk rencana gencatan senjata jangka panjang dan program rekonstruksi besar-besaran di Jalur Gaza.
Mengenal Dewan Perdamaian dan Konteks Gaza
Bagi pembaca awam, "Dewan Perdamaian" adalah badan internasional yang baru didirikan pada pertengahan Januari 2026 sebagai bagian dari peta jalan damai Donald Trump. Dewan ini terdiri dari tokoh-tokoh bisnis dan pejabat dari berbagai negara yang bertujuan untuk mengelola dana serta proses pembangunan kembali Gaza.
Jalur Gaza sendiri adalah wilayah pesisir kecil yang telah hancur akibat perang selama bertahun-tahun antara militer Israel dan Hamas. Hamas, yang merupakan kelompok penguasa di wilayah tersebut, menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan tuntutan mendesak.
Baca Juga: Hegemoni Baru Washington: Rusia Waspadai Strategi Ketidakstabilan Global di Bawah Donald Trump
Salah satu tuntutan utamanya adalah pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah, yang merupakan akses vital antara Gaza dan Mesir. Pintu ini sempat ditutup oleh Israel menyusul ketegangan militer yang meluas ke wilayah Iran.
Tantangan di Tengah Konflik yang Masih Membara
Meskipun dewan tersebut telah menjanjikan dana lebih dari 7 miliar dolar Amerika Serikat untuk pembangunan kembali, situasi di lapangan masih sangat rapuh. Russian Today melaporkan bahwa meskipun ada upaya gencatan senjata, serangan udara masih terus terjadi.
"Hamas dilaporkan memperingatkan bahwa jika akses Rafah tetap ditutup dan bantuan kemanusiaan tidak dipulihkan, mereka mungkin akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata," tulis laporan tersebut.
Kondisi ini semakin rumit karena adanya tekanan dari perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Hal ini membuat beberapa negara Muslim yang menjadi anggota dewan mulai ragu untuk melanjutkan keterlibatan mereka.
Baca Juga: Jarang-jarang, Presiden AS Donald Trump Lontarkan Pujian Langka pada Hamas di Pidato Kenegaraan
Di sisi lain, meskipun lebih dari dua lusin negara telah bergabung dalam Dewan Perdamaian ini, negara-negara besar di Barat masih enggan memberikan dukungan penuh. Rusia sendiri menyatakan sedang mempelajari proposal tersebut namun belum secara resmi bergabung.
Upaya perdamaian ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Trump dalam menstabilkan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Mantan Dubes Iran Ungkap Alasan Hamas Terima Gencatan Senjata di Gaza
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah
Hamas Tuntut Israel Penjajah Buka Penyelidikan Tak Memihak Atas Serangan 7 Oktober 2023
Donald Trump Jamu Netanyahu di Mar A Lago, Desak Hamas Lucuti Senjata hingga Dukung Israel Serang Kembali Iran
Jarang-jarang, Presiden AS Donald Trump Lontarkan Pujian Langka pada Hamas di Pidato Kenegaraan