Langkah Krusial, Hamas Gelar Pertemuan Rahasia dengan Dewan Perdamaian Trump Bahas Masa Depan Gaza

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Selasa, 17 Maret 2026 | 16:13 WIB
Prabowo dan Trump dalam pertemuan BoP. (AP Photo/Markus Schreiber)
Prabowo dan Trump dalam pertemuan BoP. (AP Photo/Markus Schreiber)

SENAYANPOST – Kelompok militan Palestina, Hamas, dilaporkan telah melakukan pembicaraan pertama dengan "Dewan Perdamaian" (Board of Peace) bentukan Amerika Serikat. Pertemuan ini menandai langkah krusial sekaligus penuh tantangan dalam rencana besar Presiden Donald Trump untuk membangun kembali wilayah Gaza setelah konflik panjang.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Russian Today pada Senin, (16/3/26), pertemuan tersebut berlangsung secara rahasia di sebuah lokasi yang tidak disebutkan. Fokus utama pembicaraan adalah upaya menyelamatkan inisiatif perdamaian Trump, termasuk rencana gencatan senjata jangka panjang dan program rekonstruksi besar-besaran di Jalur Gaza.

Mengenal Dewan Perdamaian dan Konteks Gaza

Bagi pembaca awam, "Dewan Perdamaian" adalah badan internasional yang baru didirikan pada pertengahan Januari 2026 sebagai bagian dari peta jalan damai Donald Trump. Dewan ini terdiri dari tokoh-tokoh bisnis dan pejabat dari berbagai negara yang bertujuan untuk mengelola dana serta proses pembangunan kembali Gaza.

Jalur Gaza sendiri adalah wilayah pesisir kecil yang telah hancur akibat perang selama bertahun-tahun antara militer Israel dan Hamas. Hamas, yang merupakan kelompok penguasa di wilayah tersebut, menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan tuntutan mendesak.

Baca Juga: Hegemoni Baru Washington: Rusia Waspadai Strategi Ketidakstabilan Global di Bawah Donald Trump

Salah satu tuntutan utamanya adalah pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah, yang merupakan akses vital antara Gaza dan Mesir. Pintu ini sempat ditutup oleh Israel menyusul ketegangan militer yang meluas ke wilayah Iran.

Tantangan di Tengah Konflik yang Masih Membara

Meskipun dewan tersebut telah menjanjikan dana lebih dari 7 miliar dolar Amerika Serikat untuk pembangunan kembali, situasi di lapangan masih sangat rapuh. Russian Today melaporkan bahwa meskipun ada upaya gencatan senjata, serangan udara masih terus terjadi.

"Hamas dilaporkan memperingatkan bahwa jika akses Rafah tetap ditutup dan bantuan kemanusiaan tidak dipulihkan, mereka mungkin akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata," tulis laporan tersebut.

Kondisi ini semakin rumit karena adanya tekanan dari perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Hal ini membuat beberapa negara Muslim yang menjadi anggota dewan mulai ragu untuk melanjutkan keterlibatan mereka.

Baca Juga: Jarang-jarang, Presiden AS Donald Trump Lontarkan Pujian Langka pada Hamas di Pidato Kenegaraan

Di sisi lain, meskipun lebih dari dua lusin negara telah bergabung dalam Dewan Perdamaian ini, negara-negara besar di Barat masih enggan memberikan dukungan penuh. Rusia sendiri menyatakan sedang mempelajari proposal tersebut namun belum secara resmi bergabung.

Upaya perdamaian ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Trump dalam menstabilkan Timur Tengah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X