2. Perilaku Oposisi
Namazi menekankan bahwa popularitas simbolik tidak sama dengan kapasitas organisasi.
Ia menyebut figur seperti Reza Pahlavi memiliki daya tarik emosional bagi sebagian masyarakat, namun oposisi secara keseluruhan masih terfragmentasi dan diliputi ketidakpercayaan.
Oposisi di luar negeri juga dinilai minim pengalaman dalam memimpin perlawanan sipil berkelanjutan.
Lebih jauh, Namazi mempertanyakan sejauh mana dukungan terhadap Pahlavi di dalam Iran benar-benar mencerminkan komitmen politik, atau sekadar luapan keputusasaan di tengah represi brutal.
Ia mencatat bahwa banyak warga yang merespons seruan protes justru berakhir menghadapi kekerasan negara, yang kemungkinan besar melemahkan kredibilitas kepemimpinan oposisi, bukan menguatkannya.
Di dalam dan di luar Iran, menurutnya, terdapat kelompok besar yang tidak terikat pada figur tertentu, melainkan hanya meyakini bahwa hampir apa pun lebih baik daripada rezim saat ini.
Baca Juga: Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban
3. Kontrol Informasi dan Konektivitas
Namazi menilai kemampuan negara untuk memutus internet, mengganggu komunikasi satelit, dan memisahkan kota-kota sebagai salah satu senjata paling efektif rezim.
"Keberanian tanpa koordinasi tidak dapat berkembang," tulisnya.
Mobilisasi berkelanjutan, pemogokan nasional, dan aksi kolektif bergantung pada komunikasi.
Selama negara mempertahankan kendali hampir total atas arus informasi, kemarahan publik akan sulit diubah menjadi tekanan politik yang tahan lama.
4. Dinamika Elit di Dalam Rezim
Artikel Terkait
AS dan Iran Saling Ancam, Menlu Abbas Araghchi Peringatkan Risiko Konfrontasi Total
Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban
Tidak Ada Kantor Garda Revolusi Diduduki Demonstran, Sumber Senayan Post di Iran Ungkap Kondisi Iran Kini
Pengamat: Keruntuhan Rezim Iran Bisa Datang Perlahan, Lalu Tiba-Tiba