"Ada juga fakta lain bahwa teknologi kami masih ada dan teknologi tidak dapat dibom, dan tekad kami juga ada. Kami memiliki hak yang sangat sah untuk penggunaan teknologi nuklir secara damai, termasuk pengayaan, dan kami ingin menggunakan hak kami," katanya.
Baca Juga: Mantan Buronan AS Kini Presiden Sementara Suriah, Ahmad Al Sharaa: Saya Tak Pernah Lukai Warga Sipil
Menteri menambahkan bahwa teknologi nuklir di Iran adalah teknologi dalam negeri dan negara tersebut telah melakukan pengorbanan besar untuk mendapatkannya, mulai dari sanksi hingga 'perang destruktif' Juni lalu.
"Kami tidak dapat melepaskan hak kami, tetapi pada saat yang sama, kami siap untuk memberikan kepercayaan penuh bahwa program kami damai dan akan tetap damai selamanya," katanya, seraya mencatat bahwa Amerika Serikat harus mengakui hak Iran untuk memperkaya uranium.
Mengenai kemungkinan perang baru, Araghchi mengatakan Iran tidak mengesampingkan konflik lain tetapi sepenuhnya siap menghadapinya, bahkan lebih siap daripada selama perang Juni, yang ia sebut sebagai 'pengalaman yang gagal".
"Ini bukan berarti kami menyambut perang lain, tetapi justru untuk mencegah perang, dan cara terbaik untuk mencegah perang adalah dengan bersiap menghadapinya, dan kami sepenuhnya siap dan kami sebenarnya telah memulihkan semua yang rusak akibat agresi masa lalu... Jika mereka ingin mengulangi pengalaman gagal yang sama, (mereka bebas melakukannya), tetapi mereka tidak akan mendapatkan hasil yang lebih baik," pungkasnya.***
Artikel Terkait
Ahmad Al Sharaa Sebut Pemutusan Hubungan Suriah dan Iran Tidak Permanen, Ini Tanggapan Teheran
Kedubes Iran Buka Suara soal Berakhirnya Resolusi DK PBB Nomor 2231 dan JCPOA Terkait Program Nuklir Damai
Veteran AS: Israel Bakal Hancur Jika Serang Iran Lagi
Mantan Dubes Iran Ungkap Alasan Hamas Terima Gencatan Senjata di Gaza
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei: Perang 12 Hari Gagalkan Rencana 20 Tahun AS dan Israel