Penggerebekan tersebut memicu Intifada Kedua, sebuah pemberontakan Palestina, dan sejak saat itu, otoritas Israel mulai melanggar status quo dalam skala yang jauh lebih besar.
Pertama, pasukan Israel mulai secara teratur ditempatkan di dalam halaman dan gerbang masjid, memberlakukan pembatasan terhadap siapa pun yang diizinkan masuk, seperti melarang pria di bawah usia 40 tahun dan warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat.
Pada saat yang sama, otoritas Israel mencabut wewenang Wakaf untuk mengontrol kunjungan, membuka pintu bagi apa yang digambarkan Palestina sebagai penggerebekan oleh orang-orang Israel ultranasionalis, yang seringkali dilakukan di bawah perlindungan penjaga bersenjata lengkap.
Penggerebekan ini diorganisir oleh kelompok-kelompok yang dikenal sebagai aktivis Temple Mount, yang terdiri dari organisasi-organisasi Israel yang menyerukan penghancuran Masjid Al Aqsa dan pembangunan Bait Suci Ketiga sebagai gantinya.
Selain itu, sejak tahun 2000, Israel telah secara terbuka melakukan penggalian di bawah Masjid Al Aqsa, sebuah pelanggaran signifikan lainnya terhadap status quo.***
Artikel Terkait
Di Tengah Wacana Netanyahu Ambil Alih Jalur Gaza, Jeffrey Sachs Bongkar Ideologi Sayap Kanan Ekstrem Israel
Ahmad Al Sharaa Minta Tolong Putin Bantu Hadang Agresi Israel di Suriah, Pengamat Ungkap Niat Rusia Sebenarnya
Iran Siap Normalisasi Hubungan Diplomatik dengan Suriah, Ali Larijani Sebut Syarat Ini
Kemungkinan Israel Penjajah Kembali Serang Iran, Veteran AS Singgung Lobi Zionis di Kongres dan Gedung Putih
Hamas Setujui Proposal Gencatan Senjata di Gaza, Netanyahu Sebut Gerakan Perlawanan Palestina Melemah