Pertama Kalinya, Presiden Rusia Vladimir Putin Hubungi Pemimpin Sementara Suriah Ahmad Al Sharaa

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 14 Februari 2025 | 17:06 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin hubungi pemimpin de facto Suriah Ahmad Al Sharaa secara langsung belum lama ini. (Kolase foto X.com/@mfa_russia/@G_CSyria)
Presiden Rusia Vladimir Putin hubungi pemimpin de facto Suriah Ahmad Al Sharaa secara langsung belum lama ini. (Kolase foto X.com/@mfa_russia/@G_CSyria)

SENAYANPOST - Presiden Rusia Vladimir Putin hubungi pemimpin sementara Suriah Ahmad Al Sharaa belum lama ini.

Vladimir Putin diketahui mengehubungi Ahmad Al Sharaa yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad Al Julani pada 12 Februari 2025 lalu.

Dalam pembicaraan lewat telepon itu, Rusia menawarkan dukungan kepada Suriah dalam menjaga kedaulatan dan integritas teritorial.

"Kedua belah pihak melakukan pertukaran pandangan substantif tentang situasi terkini di Suriah," kata pernyataan yang dikeluarkan oleh Kremlin pada 13 Februari 2025, dikutip SenayanPost.com dari The Cradle.

Baca Juga: Arab Saudi Kecam Keras Rencana Israel dan AS Pindah Paksa 2 Juta Rakyat Palestina dari Jalur Gaza

"Pihak Rusia menekankan posisi berprinsipnya dalam mendukung persatuan, kedaulatan, dan integritas teritorial negara Suriah," kata layanan pers tersebut.

Putin dan Sharaa juga menekankan pentingnya menerapkan sejumlah langkah demi kepentingan membangun normalisasi hubungan yang berkelanjutan di negara tersebut, mengaktifkan dialog antar-Suriah dengan partisipasi semua kekuatan politik terkemuka dan kelompok etno-pengakuan penduduk.

Panggilan telepon pada hari Rabu adalah pertama kalinya presiden Rusia secara resmi berbicara dengan Sharaa yang merupakan mantan panglima perang ISIS dan Al-Qaeda yang berhasil memimpin kudeta terhadap presiden Suriah yang telah lama menjabat dan sekutu Rusia Bashar Al Assad pada bulan Desember.

Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad Al Julani, ditunjuk sebagai presiden untuk 'fase transisi' bulan lalu oleh Departemen Operasi Militer dari pemerintah de facto.

Baca Juga: Fakta Karier Politik Erdogan yang Kini Sedang Kunjungi Indonesia

Setelah masuknya Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan kelompok ekstremis lainnya ke Damaskus pada tanggal 8 Desember, Kremlin dengan cepat memberikan suaka kepada Assad dan keluarganya di Moskow.

Pada tanggal 28 Januari, delegasi Rusia, yang meliputi Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov dan utusan Rusia untuk Suriah Alexander Lavrentyev, bertemu dengan Sharaa di Damaskus.

"Dialog tersebut menyoroti peran Rusia dalam membangun kembali kepercayaan dengan rakyat Suriah melalui langkah-langkah konkret seperti reparasi, rekonstruksi, dan pemulihan," demikian bunyi pernyataan dari kantor Sharaa saat itu.

Menurut Reuters, selama pertemuan tersebut, Sharaa meminta 'kompensasi' dan agar Rusia menyerahkan Assad kepada pihak berwenang di Damaskus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: The Cradle

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X