"Kami selalu optimis, tetapi kami mengatakannya dengan hati-hati," kata Azzam Al Ahmad.
Baca Juga: DPR Jerman Larang Simbol Segitiga Merah Hamas, Ternyata Ini Alasannya
Pejabat dari Gedung Putih Presiden Joe Biden telah menyatakan bahwa mereka ingin membantu Otoritas Palestina yang didominasi Fatah mengendalikan Gaza atas nama Israel setelah perang saat ini.
Namun upaya Israel untuk mengalahkan sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam belum berhasil, yang berarti Hamas akan memiliki suara dalam entitas pascaperang mana pun yang memerintah Gaza.
Pejabat Hamas telah menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan kendali sipil atas Gaza untuk memungkinkan rekonstruksinya tetapi telah mengesampingkan pembubaran sayap militer kelompok tersebut.
"Masih ada jurang pemisah yang besar antara Hamas dan Fatah, tetapi ada keharusan mutlak bagi mereka untuk mencapai konsensus nasional untuk pemerintahan Gaza," kata Ibrahim Dalalsha, direktur Horizon Center, sebuah kelompok penelitian politik Palestina.
Baca Juga: Arab Saudi Dukung Otoritas Palestina Memerintah di Gaza, Hamas Justru Bilang Begini
"Jika tidak ada, akan terjadi tragedi besar," lanjutnya.
Membangun kembali Gaza akan menjadi pekerjaan besar karena Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan bersikeras tidak akan menarik diri dari sebagian besar dari 26 persen wilayah Gaza yang kini diduduki langsung oleh tentaranya.
Israel juga bersikeras bahwa masyarakat internasional, terutama negara-negara Arab yang bersekutu dengan Washington, menanggung biaya untuk membangun kembali kota-kota Gaza yang telah dihancurkan oleh tentaranya.
Puluhan miliar dolar akan dibutuhkan untuk rekonstruksi, termasuk untuk membangun kembali infrastruktur kesehatan, air, dan listrik Gaza yang hancur.
Baca Juga: Politbiro Hamas Terima Tokoh Marxisme Palestina
The Times menyatakan bahwa pembentukan pemerintahan di Gaza tanpa hubungan formal dengan Hamas dapat memudahkan Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan organisasi internasional untuk berpartisipasi dalam membangun kembali wilayah tersebut.
Sementara itu, China telah berupaya memperluas hubungan dan pengaruhnya di Asia Barat dalam beberapa tahun terakhir, terutama membantu menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran tahun lalu.
China juga telah memperluas investasinya di Asia Barat dan menjadi pembeli minyak mentah Teluk terbesar.
Artikel Terkait
Israel Penjajah Caplok Lagi Tepi Barat Palestina, Terbesar dalam 30 Tahun Terakhir
Politbiro Hamas Terima Tokoh Marxisme Palestina
Arab Saudi Dukung Otoritas Palestina Memerintah di Gaza, Hamas Justru Bilang Begini
Bentrokan Sengit Pejuang Palestina dan Israel di Gaza, Masuki Hari ke-275
Hamas Kecam Pernyataan Otoritas Palestina, Tolak Tanggung Jawab Genosida di Gaza