nasional

Opini: Indonesiaisme versus Arabisme

Sabtu, 25 November 2023 | 14:24 WIB
Ilustrasi, pemerhati sosial Guntur Soekarno dan Ahmad Basarah membahas dan mengelaborasi tentang Indonesiaisme versus Arabisme. (Pixabay.com/12019)

Penulis menolak pemaksaan sesuatu hukum agama yang sebenarnya di kalangan umat Islam sendiri masih terjadi perdebatan. Bila kita berpegang pada pemikiran Bung Karno maka kita juga akan mempertanyakan perihal jilbab dan busana yang katanya merupakan busana muslim yang harus dikenakan oleh kaum perempuan Indonesia yang beriklim tropis ini.

Bukankah yang diwajibkan oleh Islam adalah berpakaian yang menunjukkan sopan dan santun. Apakah dengan menggunakan busana biasa yang sopan tetapi tidak menggunakan jilbab berarti seorang perempuan dianggap belum menutup aurat dan tidak islami?

Juga jika ia berkerudung ala Fatmawati Soekarno atau ala Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, bukankah hal itu berarti juga sudah menutup aurat?

Janganlah kita mengada-ada suatu anggapan bila perempuan tidak menggunakan jilbab, maka bila meninggal dunia yang bersangkutan tidak akan masuk surga. Bila demikian bagaimana nasib generasi ibu dan nenek kita yang di jaman dahulu tidak menggunakan jilbab dan saat ini sudah meninggal dunia, apakah tidak mungkin mereka masuk surga? Benar-benar tidak masuk akal.

Baca Juga: Eksekusi Lahan Ruko di Mojokerto Sengaja Diperlambat

Karena perdebatan para ahli fiqih sejak ratusan tahun lalu tentang apakah rambut perempuan adalah aurat atau bukan belum selesai, maka kaum perempuan di Indonesia sejak masa pra kemerdekaan sampai akhir 1980-an terlihat hanya menggunakan kerudung seperti yang kerap kita lihat di foto-foto zaman dahulu.

Mereka tidak menjadikan kerudung ala perempuan nusantara itu sebagai objek perdebatan karena di era itu, jilbab yang kini kita lihat dikenakan kaum perempuan masa kini memang belum ada.

Barulah ketika dunia mode berkembang di tahun 1980-an, apalagi angin Revolusi Islam Iran juga berhembus ke negeri ini yang mempertontontakan perempuan-perempuan muslimah berpakaian tertutup serba hitam, maka jilbabisasi perempuan Indonesia pun mendapatkan momentumnya hingga era kini.

Dalam perkembangannya boleh dikatakan penggunaan jilbab yang berkembang di akhir 1980-an itu berkembang luas di kalangan umat Islam Indonesia sampai ke pelosok-pelosok desa di seluruh tanah air.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin

Bila kita perhatikan terutama pada kegiatan-kegiatan hajatan pernikahan, khitanan dan lain-lain dimana ratusan tamu yang datang menggunakan busana beraneka ragam tampak jelas terjadinya tubrukan model busana yang mereka kenakan karena ada yang memakai jilbab berbusana muslim ada yang mengenakan kebaya nasional dengan rambut bersanggul tanpa kerudung.

Kaum lelaki Indonesia juga berbusana macam-macam, ada yang mengenakan celana dan batik lengan panjang, ada yang berbusana sipil lengkap plus kopiah, juga ada yang menggunakan busana daerah setempat seperti beskap/jas tutup plus blangkon untuk daerah Jawa Tengah.

Dalam perhelatan tersebut tampak benar perbedaan yang mencolok antara kelompok yang berbusana ala Arabisme di satu pihak dan yang berbusana Indonesiaisme di pihak lain.

Benar-benar tampak sangat kontras berlawanan. Oleh sebab itu kita kaum patriotik sebaiknya tidak harus menjadi orang Arab walaupun memeluk agama Islam. Baik bagi kaum lelaki maupun kaum perempuan, kita tetap berbusana nusantara yang kaya dengan kearifan lokal dan cocok dengan kepribadian bangsa ini.

Baca Juga: Tamat Malam Ini, Link Nonton The Escape of The Seven Episode 17 Sub Indo

Halaman:

Tags

Terkini