Opini: Indonesiaisme versus Arabisme

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 25 November 2023 | 14:24 WIB
Ilustrasi, pemerhati sosial Guntur Soekarno dan Ahmad Basarah membahas dan mengelaborasi tentang Indonesiaisme versus Arabisme. (Pixabay.com/12019)
Ilustrasi, pemerhati sosial Guntur Soekarno dan Ahmad Basarah membahas dan mengelaborasi tentang Indonesiaisme versus Arabisme. (Pixabay.com/12019)

Guntur Soekarno dan Ahmad Basarah
Pemerhati sosial

SENAYANPOST - Setelah menunaikan ibadah Haji tahun 1955 Bung Karno menyerukan kepada bangsa Indonesia agar "yang Islam jangan menjadi orang Arab, yang Kristen jangan menjadi orang Yahudi sedangkan yang Hindu jangan menjadi orang India. Tetaplah menjadi bangsa Indonesia yang bermukim di Nusantara yang kaya raya ragam budaya ini".

Seruan ini diutarakan oleh karena Bung Karno dalam melaksanakan ibadah haji banyak melihat dan mengalami hal-hal yang sebaiknya tidak ditiru oleh bangsa Indonesia karena tidak sejalan dengan kepribadian bangsa Indonesia disamping adanya hal-hal yang tidak disadari oleh bahkan Raja Ibnu Saud saat itu yang dapat memberikan kenyamanan untuk para jama’ah melaksanakan proses ibadah haji.

Seperti misalnya ketika melakukan Sa’i antara bukit Safa dan Marwah Bung Karno beserta rombongan tidak dapat melaksanakannya secara lancar karena tersendat akibat bertubrukan dengan peserta ibadah yang datang dari berlawanan arah.

Baca Juga: Opini: Hilirisasi Nikel dan Derita Ekonomi Rakyat

Untuk kendala ini Bung Karno mengusulkan dan memberi saran kepada Raja Ibnu Saud agar jalan antara kedua bukit tersebut di atas dipisah dengan pembatas di tengahnya agar tidak terjadi tubrukan antar jama’ah.

Saran tadi diterima sepenuhnya oleh Raja sehingga kini saat jama’ah haji ber-Sa’i di antara dua bukit tidak akan terjadi tubrukan antar jama’ah lagi karena telah dibuat dua jalur. Hal lain yang disarankan oleh Bung Karno kepada Raja adalah penanaman pohon jenis Akasia di padang Arafah agar menjadi teduh setelah pohon-pohon tersebut tumbuh tinggi dan rindang.

Hal ini pun dilaksanakan oleh Raja Saudi dan juga diadakan pemasangan penyiram air (Sprayer) di seluruh kawasan tandus Padang Arafah. Di atas adalah beberapa contoh bagaimana hal-hal yang dapat membuat nyaman bagi jama’ah haji melakukan ritual keagamaan belum terpikirkan oleh pemerintah Arab Saudi di kala itu.

Baca Juga: Firli Bahuri Tersangka Kasus Pemerasan Eks Mentan SYL, Wakil KPK: Kita Harus Taat Asas Hukum

Hal lain yang menjadi perhatian Bung Karno adalah penggunaan jilbab oleh wanita Islam khususnya di Arab Saudi.

Sejak menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah dan Konsul Muhammadiyah di era pembuangan di Bengkulu, Bung Karno sudah berpendirian wanita muslim tidak harus memakai jilbab khususnya di Indonesia yang beriklim tropis.

Karena di iklim tropis suhu tertinggi tidak akan melebihi 36 derajat Celcius dan boleh dikatakan Nusantara relatif bebas dari debu, jadi kaum wanita di negeri ini cukup menggunakan kerudung seperti apa yang dikenakan oleh Ibu Fatmawati sehari-harinya.

Menurut pemikiran Bung Karno, di kawasan Arab yang daerahnya berupa padang pasir memang diperlukan bagi kaum wanita di sana untuk menutup diri mereka dengan jilbab dan abaya panjang yang menutupi seluruh tubuh.

Baca Juga: Meski Sempat Diintimidasi Acara Pendukung Ganjar Pranowo di Canada tetap Berjalan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X