Oleh DR KH As'ad Said Ali
Mustasyar PBNU
Wakil Kepala BIN 2000 - 2010
Sudah cukup lama saya kenal dekat dengan Kyai Prof Dr Ma’ruf Amin dan mulai semakin dekat ketika beliau mengendalikan kegiatan dakwah Nahdlatul Ulama pada era kepemimpinan KH Hasyim Muzadi. Saat itu Indonesia sedang menghadapi konflik Ambon dan Poso serta awal infiltrasi Al Qaeda ke Indonesia dan awal kebangkitan Jamaah Islamiyah akhir dekade 1990-an. Saya sejak itu sering diikut - sertakan dalam kegiatan deradikalisasi di lingkungan NU dengan tujuan utama agar NU tidak disusupi kelompok radikal tersebut.
Hampir dalam setiap kegiatan Lembaga Da'wah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Ma’ruf Amin mengajak saya (sebagai orang NU yang menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen Negara), dan tugas saya adalah menjelaskan hal ihwal tentang ekstrimisme dan terorisme ,sebagai dampak dari ekspansi Al Qaeda yang ketika itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sesuai kesepakatan Konferensi Intellijen Keamanan Negara Negara Islam, terorisme sebaiknya bukan hanya dihadapi dg pendekatan “hard ware “ , tetapi juga “soft ware” dengan cara menyertakan organisasi masyarakat agama. Atas dasar itu, maka Kepala BIN Pror Dr Jenderal TNI Abdullah Mahmud Hendropriyono mengajukan “Rencana kebijakan strategis” seperti di atas kepada Presiden Megawati.
Walhasil, berlangsung kerjasama BIN - Kementerian Luar Negeri - NU setelah pembahasan antara Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda, Kepala BIN Prof Dr Jenderal TNI Abdullah Mahmud Hendropriyono dan Ketum PBNU KH Hasim Muzadi. Lahirlah ICIS (International Conference of Islamic Scholers), yang pertama berlangsung di Jakarta dihadiri oleh ulama dari beberapa negara dan Indonesia. Kemudian setiap dua tahun sekali, ICIS digelar di kota lain di Indonesia.
Saya semakin mengenali kapasitas KH Ma’ruf Amin selama mengisi dakwah, baik di Jakarta dan di kota kota lain. Beliau bukan sekedar ulama yang mumpuni, tetapi juga seorang intelektual, ahli ekonomi syariah yang hebat dan bahkan seorang politisi yang cerdik dan halus. Watak dan pembawaan beliau berwibawa, tenang sehingga meneduhkan umat.
Ada sekelumit pengalaman, ketika saya menjalankan perintah Rais ‘Aam PBNU KH Sahal Mahfudz alm untuk bersilaturahmi ke sejumlah Kyai senior. Tujuannya adalah untuk mengetahui kesiapan, siapa diantara Kyai yang paling siap mengganti beliau karena kesehatannya yang menurun. Beliau menyebut beberapa nama kyai dan salah satunya adalah KH Ma’ruf Amin. Sejak belum dewasa saya sering bertemu Kyai SahalMahfudz umumnya di rumah paman saya KH Baedlowi Siraj (alm) yang masih famili dengan Kyai Sahal Mahfudz ( alm).
Salah satu Kyai yang saya temui adalah Kyai Abdurahman Wahid (alm). Presiden RI ke empat itu menjawab secara tidak langsung dengan mengajukan pertanyaan. Apakah ada Kyai yg mempunyai jabatan sosial, agama, politik, ekonomi dan lainnya yang lebih banyak dari KH Ma’ruf Amin ? Kemudian beliau menjawab ”Tidak ada. “ Hal itu cukup bagi saya untuk menggambarkan bahwa sikap dan pikiran KH Ma’ruf Amin diperlukan oleh bangsa.
Kemudian pada “aksi sejuta umat di Monas yang terkenal aksi 212” timbul kekhawatiran akan berubah menjadi anarkhis. Saya tahu dari yel-yel dan lagu atau syair yang biasa dikumandangkan oleh mereka yang dekat kelompok pendukung terorisme. Kehadiran Ketua MUI KH Ma’ruf Amin menghadirkan suasana menjadi teduh dan yang terjadi adalah aksi sejuta umat yang damai. Saya tahu benar Imam besar FPI Habib Muhammad Riziq Shihab sangat menghormati KH Ma’ruf Amin.
Figur yang teduh, penuh kalkulasi dan cerdik seperti beliau ini, memang sering diabaikan dan kurang mendapat perhatian. Namun pada situasi dan kondisi yang tidak menentu, figur atau tokoh seperti beliau ini, biasanya justru dituntut perannya, yang dalam sejarahnya selalu berhasil. (Muqoddas)