Opini: Pak AR Pemimpin Muhammadiyah yang Gagal?

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Rabu, 21 Juni 2023 | 08:54 WIB
Rangkaian Ujian Disertasi Terbuka Ustadz Ikhwan dengan judul disertasi,“Oase Kepemimpinan KH AR Fachruddin sebagai Servant Leader Analisis Psikologi Kepemimpinan.”  (Foto: Dok. BHP UMY)
Rangkaian Ujian Disertasi Terbuka Ustadz Ikhwan dengan judul disertasi,“Oase Kepemimpinan KH AR Fachruddin sebagai Servant Leader Analisis Psikologi Kepemimpinan.” (Foto: Dok. BHP UMY)

Terakhir saya mendapat cerita dari Agus Purwantoro, teman sekamar waktu kos di rumah Pak AR yang kemudian jadi menantunya, bahwa ada pria datang ke rumah Pak AR mengucapkan terima kasih karena sewaktu berhaji di Mekah ditolong Pak AR. Pak AR bingung karena di tahun itu tak melaksanakan ibadah haji.

Baca Juga: Desta Mahendra dan Natasha Rizki Resmi Cerai, Tidak Ada Bagi Harta Gono-Gini

Nah, cerita-cerita di atas, di kalangan Nahdhiyin, menunjukkan kalau Pak AR punya karomah. Berarti Pak AR seorang waliyullah.

Sayang diskursus waliyullah ini tampaknya langka di Muhammadiyah. Pak AR yang sampai akhir hayatnya tidak punya rumah (padahal kalau mau pasti bisa jika melihat posisi Pak AR yang dekat dengan pusat kekuasaan saat itu) sulit dimengerti kecuali bila memahami Pak AR dari aspek kewalian atau tasawuf.

Dari perspektif itu pula, kenapa disertasi MIA menyatakan karakteristik Pak AR sebagai pimimpin melebihi kriteria Greenleaf. Padahal kalau konsep kepemimpinan Pak AR dikaji dengan pendekatan sufistik, maka akhlak Pak AR yang dipuji MIA adalah niscaya. Karena Pak AR adalah seorang sufi.

Kembali ke pertanyaan di atas, adakah kegagalan Pak AR dalam memimpin Muhammadiyah? Jawab MIA, ada. Pertama, Pak AR tidak bisa mewariskan gaya kepemimpinan ideal seperti dirinya kepada penerusnya. Yang kedua, sepanjang hidupnya Pak AR merokok.

Baca Juga: NAHAS, Kapal Selam Hilang saat Tur Jelajah Bangkai Titanic  

Bagi saya, yang pertama oke. Memang sulit Pak AR mewariskan gaya kepemimpinannya terhadap penerus. Ini karena kondisi geopolitik kepemimpinan Pak AR sangat distinktif. Yaitu saat Pak Harto berkuasa. Nyaris tak ada tokoh Islam modernis yang bisa berkomunikasi dengan baik seperti Pak AR terhadap Pak Harto. Jadi gaya kepemimpinan Pak AR tak tergantikan dan sulit ditiru. Tapi itu bukan kegagalan. Karena kondisinya distinktif dan khas.

Sepertinya Langit sengaja memilih Pak AR untuk menjadi counter terhadap gaya kepemimpinan Pak Harto tanpa mencederai aspek kemanusiaan dan persahabatan dua manusia besar tersebut. Dan ini menjadi berkah untuk Muhammadiyah. Karena kedekatan Pak AR dekat dengan Pak Harto, Muhammadiyah banyak mendapat bantuan fisik dari pemerintah.

Kedua, bagaimana dengan rokok Pak AR? Saat itu Muhammadiyah belum mengharamkan rokok. Jadi ini pun bukan kegagalan Pak AR. Tepatnya, Pak AR yang guru ngajinya banyak dari kyai NU, mungkin terpengaruh pada tradisi kyai Nahdhiyin yang mayoritas perokok.

Saat itu, rokok adalah sarana pergaulan. Lagi pula majlis tarjih Muhammadiyah belum mengharamkan rokok. Jadi Pak AR dengan kebiasaan merokoknya tidak salah dan tidak melanggar fikih Muhammadiyah.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X