Pegiat Lingkungan Cisarua: Jangan Salahkan Petani, Longsor Bandung Barat Akibat Perubahan Iklim

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:29 WIB
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)

SENAYANPOST - Sebagian publik di media sosial (medsos), sedang hangat membicarakan ihwal penyebab bencana longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, (24/1/26). Kini, seorang pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua, Siti Aisyah Novitri menuturkan pandangannya tentang bencana longsor yang melanda kampung halamannya.

"Kampung halamanku dilanda longsor dan banjir bandang," kata Aisyah melalui akun Instagram pribadinya @aisyahbertani, pada Sabtu, (31/1/26).

Melalui unggahannya, Aisyah turut menyoroti dugaan penyebab utama dalam insiden itu, yakni tentang alih fungsi lahan yang marak terjadi di daerah hulu. Kendati demikian, warga Cisarua itu justru menampik aktivitas alih fungsi lahan sebagai penyebab utama atas hadirnya bencana tersebut.

Terlebih, Aisyah menilai para petani justru yang acapkali dijadikan 'kambing hitam' atau disalahkan atas musibah yang melanda Cisarua itu.

Baca Juga: Diskusi ISI: Perubahan Arah Kebijakan AS Tekan Stabilitas Indo Pasifik dan Uji Peran Indonesia

"Jangan salahkan petani, longsor Cisarua bukan semata soal alih fungsi lahan. Ini tentang climate justice," tegasnya.

Di samping itu, Aisyah mengaku hingga kini masih berupaya mencari para korban yang hilang.

"Sementara kami masih berusaha bertahan, mencari, dan berduka atas kehilangan saudara-saudara kami," ungkapnya.

Berkaca dari hal tersebut, Aisyah lantas menuturkan analisa mendalam terkait bencana longsor yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat. Dalam pernyataannya, Aisyah berpandangan, alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab bencana, namun publik perlu tahu ihwal aliran air yang meluncur dari puncak daerah tersebut.

Baca Juga: Awarded the LVRI Medal of Honor, General Andika Perkasa Ready to Support LVRI Activities

"Titik awal longsor berasal dari puncak Gunung Burangrang yang masih rimbun, pemicunya, hujan berintensitas tinggi," terangnya.

Aisyah menyebutkan, longsoran menutup jalur air di puncak, sehingga hal itu membentuk bendungan alami.

"Air bercampur sedimen lalu jebol, diperparah oleh kemiringan lereng 20-25 persen," sebutnya.

Oleh sebab itu, Aisyah memastikan, hutan lebat pun kini tak lagi sepenuhnya mampu menahan cuaca ekstrem. Aisyah turut menyoroti pemanasan global yang tergolong dapat menaikkan suhu udara dalam sebuah wilayah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X