Pegiat Lingkungan Cisarua: Jangan Salahkan Petani, Longsor Bandung Barat Akibat Perubahan Iklim

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:29 WIB
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)

Baca Juga: Involved in ASEAN Peace, LVRI Appreciates Kraton MajapahitJakarta's Support for VECONAC ASEAN 2025

"Udara yang lebih panas, mampu menampung lebih banyak uap air," jelasnya.

Akibatnya, hujan berintensitas tinggi semakin sering terjadi dan dinilai dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang.

"Bencana di Cisarua, hal yang kami alami ini adalah perubahan iklim," tegas Aisyah.

Dalam pernyataan yang sama, Aisyah menilai para petani setempat bukanlah sebagai sumber dari penyebab longsor di Cisarua, melainkan justru sebagai korban.

Baca Juga: Berperan dalam Perdamaian ASEAN, LVRI Apresiasi Dukungan Kraton Majapahit Jakarta untuk VECONAC ASEAN 2025

"Petani tidak memiliki banyak pilihan. Untuk hidup sejahtera, idealnya seorang petani membutuhkan sekitar 2 hektar lahan," tuturnya.

Aisyah mengatakan, pada kenyataannya, di Desa Pasirlangu, Cisarua, jika luas lahan dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka rata-rata kepemilikan tanah hanya sekitar 0,3 hektar.

"Banyak petani tidak memiliki lahan sama sekali," terang Aisyah. *

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X