"Ah malas, yang itu-itu lagi," ujarnya bercanda. Nyatanya, ia hadir dan ikut hingga acara hampir berakhir.
Kedua, pada acara buka bersama komunitas Satupena dan Puisi Esai, 15 Maret 2024.
Baca Juga: Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan
Lagi-lagi, Bang Trisno selalu masuk list undangan. Ia hadir dan tampak sumringah, bahkan sempat ngobrol dan berfoto berdua denganku.
"Wah, senang masih ada acara-acara begini," ujarnya yang dikanjutkan dengan tawa khasnya yang lepas dan ngakak. Aku jawab setuju. Siap, Bang ...
Jelang tengah malam, Sabtu, 30 Maret 2024, Bang Trisno dipanggil Yang Kuasa, pada usia 61 tahun. Aku terkejut dan berduka.
Bang Trisno wafat di bulan Ramadhan, menjelang Hari Paskah. Ia wafat di bulan baik bagi muslim dan di hari-hari suci bagi umat kristiani.
Baca Juga: Lirik Lagu Magnetic dari Girlband Korea ILLIT: Baby, I'm Just Trying to Play It Cool
Tuhan bisa jadi memilih memanggilnya pada hari-hari pluralisme ini. Persis seperti jalan pengabdian yang Bang Trisno pilih dalam hidupnya.
Pagi ini aku kembali menangis saat membaca japrian bang Yudi Latif, yang khusus membuatkan puisi untuk sahabatnya, Trisno S. Sutanto.
Pulang (1)
Yudi Latif
Pulanglah, kawan, pulang!
Kita hanyalah anak-anak sang waktu yang mengalir dari titik ke titik persinggahan sementara.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu 'Tantrum', Batal Kirim Delegasi Israel ke AS Gegara Ini
Waktu dan ruang bukanlah keabadian. Sekadar labirin tanda tanya yang setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri.
Tapi, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudera bermula dari tetes. Setiap kata yang engkau sapakan pulihkan harapan pada kecemasan.
Artikel Terkait
Opini: Aaron Bushnell, Tentara AS Bakar Diri Demi Palestina
Opini: Hak Angket dalam Transparansi dan Akuntabilitas Syariah Islam
Opini: Fakta yang Lebih Fiksi dari Fiksi
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan