Bukti baktinya pada isu-isu ini bukan hanya pada kegemarannya hadir di diskusi-diskusi terkait, tapi juga argumen yang cerdas dan bernas dalam narasi lisan dan tulisan -- dan salah satunya tergambar dalam buku tebal di atas tadi.
Bagi Abang Trisno, isu-isu tentang pluralisme dan kebangsaan harus dibicarakan secara terbuka.
Baca Juga: Yes, Jalan Tol Jakarta Cikampek II Dibuka Gratis untuk Mudik Lebaran
Dialog menjadi titik penting sebagai pembuka pintu kemajemukan dalam rangka merekatkan bangsa dan mengembangkan kemanusiaan.
Tapi Trisno tidak berhenti sampai di sini saja. Ia mengajak kita melanjutkan ke langkah kepedulian. Tidak cukup mengembangkan pluralisme dan kebangsaan, jika masih ada mayoritas masyarakat yang miskin dan terpinggirkan.
Maka, Trisno mengetuk hati kemanusiaan kita untuk memikirkan pula cara mengubah struktur sosial ekonomi yang timpang. Tujuannya jelas: untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Di sini aku jadi teringat almarhum Buya Syafii Maarif, yang sering mengingatkan kita, yang lalai menjaga sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Baca Juga: Rencana Diskon Tarif Jalan Tol pada Musim Mudik 2024
Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan dan Demokrasii disertai Musyawarah, hanya akan berarti jika ada keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia -- hal yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara.
Ah, Abang. Bisa jadi, pemikiran Buya Syafii Maarif juga terpatri kuat di hati dan pikiranmu.
Selama beberapa tahun terakhir, aku lebih sering berjumpa dengan Bang Trisno di acara-acara Satupena, Esoterika dan sejenisnya.
Beliau seniorku di Satupena, yang jika aku memberikan komen di grup WA, sering ditanggapi dengan respons lucu yang membuatku nyengir.
Baca Juga: Link Nonton dan Spoiler Wonderful World Episode 9 Sub Indo, Tayang Malam Ini
Aku ingat dua pertemuan terakhir dengannya. Pertama adalah pada diskusi kebangsaan tentang Masa Depan Indonesia, yang digelar di Universitas Paramadina, 4 Maret 2024.
Aku yang menggagas acara ini, dengan didukung oleh rektor Prof. Didik J. Rachbini, mengundang puluhan tokoh pemikir. Salah satu yang masuk dalam list-ku tentu saja Trisno S. Sutanto. Aku japri dan ia menanyakan siapa saja yang hadir.
Artikel Terkait
Opini: Aaron Bushnell, Tentara AS Bakar Diri Demi Palestina
Opini: Hak Angket dalam Transparansi dan Akuntabilitas Syariah Islam
Opini: Fakta yang Lebih Fiksi dari Fiksi
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan