Itulah sebabnya, kehidupan Gus Dur, baik sebelum menjadi pemimpin negara maupun sesudahnya, menyimpan kenangan dan keteladanan yang selalu memberikan inspirasi kepada anak bangsa.
Baca Juga: Oda Sensei Bakal Garap Remake Anime One Piece, Gandeng Studio Animasi yang Garap Spy X Family
Putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid mengatakan, pemikiran Gus Dur yang muncul puluhan tahun lalu masih sangat relevan dengan situasi demokrasi saat ini.
Haul tersebut diselenggarakan dalam rangka mencari cara mengurai benang kusut, yang tengah melanda negeri ini.
Tema haul yang bertopik "Meneladaní Budaya Etika Demokrasi Gus Dur", tepat sekali manakala melihat Indonesia saat ini sedang diterjang badai politik yang meruntuhkan etika, demokrasi, dan hukum.
Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, demokrasi bagi Gus Dur bukan soal menang kalah, tetapi upaya untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan.
Baca Juga: Israel Bakal Negosiasi dengan Hamas soal Sandera Usai Demonstrasi Besar-besaran di Tel Aviv
Oleh karena itu demokrasi yang dilaksanakan oleh Gus Dur, merupakan demokrasi yang berdasarkan nilai-nilai luhur, moral, dan etika.
Gus Dur merupakan sosok yang mampu menyelaraskan dua hal yang sering dipertentangkan oleh banyak kalangan, seperti ilmu dan hikmah, akal dan kalbu, serta rahasia dan rasa.
Kedua hal tersebut, seperti halnya akal dan kalbu, berasal dari budaya yang berbeda, yakni dari Barat dan Timur, tetapi Gus Dur mampu menyelaraskannya.
Ini tidak mudah dilakukan, kecuali oleh seorang waliyullah yang selalu menegakkan kebenaran dengan landasan kesucian dengan tujuan mencari ridla Allah semata.
Baca Juga: 72 Hari Perang di Gaza, Hamas Sebut Penjajah Israel Hanya Miliki Tiga Pilihan
Gus Dur adalah pribadi yang sudah selesai untuk dirinya sendiri. Gus Dur terus berjuang untuk menegakkan keadilan, menjunjung kemanusiaan, menghidupkan demokrasi pro-rakyat, dan memperkuat hukum yang berpihak pada kebenaran.
Empat pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, itulah yang selalu dibawa Gus Dur ke mana pun untuk diperjuangkan eksistensinya.
Berhasil? Ternyata, 14 tahun sepeninggal Gus Dur pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara itu makin keropos, seperti kita rasakan saat ini.
Artikel Terkait
Opini: Cara Pengambilan Keputusan dalam Demokrasi Pancasila
OPINI: Pemilu Asimetris dan Demokrasi Setengah Matang
Kuasa Hukum Danu Ajukan Perlindungan ke LPSK Terkait Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang
Kuasa Hukum Sebut Danu Jadi Tumbal Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang
Kuasa Hukum Beberkan Kesaksian Danu di Malam Kejadian Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang
Firli Bahuri Tersangka Kasus Pemerasan Eks Mentan SYL, Wakil KPK: Kita Harus Taat Asas Hukum
Opini: Demokrasi dan Pilihan Rakyat