Oleh: Dr. Abdul Aziz, M.Ag.
Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta
SENAYANPOST - Demokrasi memang bukan sistem pemerintahan yang terbaik. Socrates, filsuf besar Yunani, bahkan amat membenci demokrasi.
Sang filsuf mengibaratkan, jika mayoritas orang yang berada di kapal yang berlayar di tengah lautan menghendaki arah ke barat, padahal mereka tidak mengetahui navigasi, maka apa yang akan terjadi?
Kapal itu bisa tersesat. Karena itu, ujar Socrates, satu orang yang pintar navigasi jauh lebih penting dari 1000 orang awam yang tidak tahu apa-apa.
Begitu pula halnya dengan demokrasi. Memilih sesuatu, kata Socrates, harus punya pengetahuan dan keterampilan. Socrates sebagai filsuf tidak mau pilihannya dalam demokrasi dinilai sama dengan tukang batu.
Baca Juga: AS Ingatkan Israel soal Warga Sipil Gaza, Sebut Ada Kesenjangan Niat dan Hasil
Nasib Socrates ternyata tragis. Ia dihukum mati karena demokrasi yang dibencinya.
Saat diadili karena dianggap buzzer, mayoritas hakim di pengadilan setuju Socrates dihukum mati. Ia pun tewas dibunuh pedang demokrasi.
Sistem demokrasi adalah warisan yang sangat tua dari budaya Yunani Kuno. Demokrasi telah diterapkan di Athena, 500 tahun sebelum Masehi. Hebatnya, saat ini, di dunia modern, demokrasi dianggap sebagai sistem pemerintahan terbaik.
Yang menjadi soal, demokrasi macam apa? Pilihan rakyat yang bagaimana yang dianggap demokratis?
Baca Juga: Opini: KTT Iklim Dubai Mencari Solusi dengan Kolaborasi, Bagaimana Indonesia?
Dari pertanyaan seperti itulah, makna demokrasi berkembang. Kadang perkembangannya sangat liar -- sehingga para diktator pun mengaku dirinya memerintah secara demokratis.
Banyak diktator yang sengaja membajak suara rakyat untuk melanggengkan kekuasaan otoriternya. Mereka yang haus kekuasaan pun mengaku sebagai pemimpin yang demokratis.
Meski bukan sistem terbaik untuk mengatur negara, tapi dunia sepakat -- demokrasi adalah cara terbaik untuk memilih pemimpin atau presiden. Kenapa? Karena, kemungkinan memanfaatkan sistem demokrasi untuk "kepentingan dan ambisi kekuasaan" sang presiden atau penguasa, jauh lebih kecil ketimbang sistem kenegaraan yang lain seperti kerajaan dan militeristik. Walhasil, sistem demokrasi masih tetap diakui sebagai sistem terbaik di zaman modern.
Artikel Terkait
Opini: Cara Pengambilan Keputusan dalam Demokrasi Pancasila
OPINI: Pemilu Asimetris dan Demokrasi Setengah Matang
Preview Drakor Revenant: Seolah Ditakdirkan, Goo San Young Bertemu Yeom Hae Sang Profesor Cerita Rakyat
Prabowo 'Ditinggal' Muhaimin Iskandar Usai Deklarasi Cawapres Anies Baswedan: Rakyat Tidak Bodoh
Dukungan Rakyat Indonesia dan Negara Lain untuk Palestina akan Mengucilkan Amerika Serikat
8 Simbol Perjuangan Rakyat Palestina Beserta Artinya, Nomor 4 Jarang Banyak yang Tahu!
Opini: Hilirisasi Nikel dan Derita Ekonomi Rakyat