khazanah

Sisi Lain dari Iran

Sabtu, 4 April 2026 | 22:25 WIB
Ilustrasi Kekaisaran Akhemeniyah. (Getty Images/iStockphoto/Delbars)

Oleh: Mukti Ali Qusyairi Penulis buku Islam Mazhab Cinta & buku Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Perang dingin antara Iran dan AMIS (Amerika Serikat dan Israel) dimulai sejak Ayatollah Khumaeni berhasil menumbangkan rezim boneka AMIS Raja Sah Reza Pahlevi pada 1979. Saat ini perang dingin itu sudah berakhir menjelma menjadi perang fisik, perang panas, berkobar dan membakar.

Ada banyak pengamat yang menyuguhkan analisa geopolitik, analisa perang, perdamaian, dan analisa ekonomi. Tetapi saya ingin melihat sisi lain dari Iran.

Tak Ter-Arab-kan

Ada titik persamaan antara Iran dan Nusantara Indonesia ialah penduduk mayoritas terislamkan tetapi tidak ter-arab-kan. Iran sanggup mempertahkan bahasa ibunya yaitu persia. Sebagaimana Indonesia mampu mempertahankan dengan beragam bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Kalau kita lihat negara-negara Timur Tengah di masa lalu pra Islam ada cukup banyak bahasa yang berkembang dan menjadi bahasa ibu. Misalkan Mesir memiliki bahasa Koptik dan tulisan Hiroglif. Negara lain, seperti Suriah dan negara-negara lain di Timur Tengah memiliki Bahasa Suryani, bahasa Aramaik, Akadiah, Ibrani, dan Mada. Bahasa Yunani pun berkembang di negara-negara Timur Tengah kuno. Tetapi pasca Islam semua negara-negara Timur Tengah itu selain terislamisasikan juga secara bahasa pada saat yang sama terarabisasikan. Sehingga bahasa-bahasa yang beragam dan kaya itu hampir punah dan dikalahkan oleh dominasi bahasa Arab.

Baca Juga: UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan untuk Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Darmesteter dalam bukunya Etudes Iraniennes yang diarabkan dengan judul Dirasat Haula Iran menyatakan bahwa ada tiga fase perkembangan bahasa Persia. Pertama, fase Dinasti Kekaisaran Akhemeniyah (550 SM.-330 SM.). Fase ini kosa kata bahasa Persia masih kurang lebih dari 400 kalimat yang berbeda-beda. Ini disebut bahasa Persia kuno.

Tercatat Kekaisaran Akhemeniyah bertahan sebagai penguasa Persia sampai sembilan generasi atau raja. Yaitu Achaemenes, Teispes atau Chaish Pich, Cambyses atau Kambujiya, Cyrus atau Kurush, Cambyses, Ariaramnes atau Ariyaramna, Arsames, Hystaspes, Darius, dan Xerxes.

Kekaisaran Akhemeniyah jatuh pada saat dipegang oleh raja Darus akhir yang bernama Xerxes ditaklukkan oleh Alexander Agung pada 330 SM.

Alexander Agung yang dalam sejarah disebutkan sebagai murid Aristoteles sang filsuf Yunani kuno menetapkan kebijakan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi di wilayah Persia yang sebelumnya dikuasai Akhemeniyah itu.

Meski bahasa Yunani dominasi di ruang publik. Bahasa Persia hidup di ruang-ruang privasi. Bahasa Persia tidak mati.

Baca Juga: Laporan Intelijen AS Ungkap Setengah Peluncur Rudal Iran Masih Utuh, Ini Kata Gedung Putih

Kedua, fase Dinasti Sasanian (226 - 652 M.). Fase ini bahasa Persia terjadi perkembangan. Agama resminya adalah agama Zorowaster. Mulai banyak kosa kata terkait dengan doktrin dan filsafat keagamaan Zorowaster. Pada saat itu juga sudah masuk kitab Taurat, kitab-kitab suci para Nabi, dan Zabur yang ditulis dan terjemah ke bahasa Persia. Pertambangan pun sedang maju sehingga muncul kosa kata Persia untuk batu mulia, cincin, dan aktivitas kerja. Bahasa Persia saat itu pun bersinggungan dengan tulisan Bahlawiyah/Pahlavi.

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB