Sisi Lain dari Iran

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Sabtu, 4 April 2026 | 22:25 WIB
Ilustrasi Kekaisaran Akhemeniyah. (Getty Images/iStockphoto/Delbars)
Ilustrasi Kekaisaran Akhemeniyah. (Getty Images/iStockphoto/Delbars)

Ketiga, fase Islamisasi bangsa Persia. Fase ini bangsa Persia berinteraksi dengan bangsa Arab yang berhasil melakukan Islamisasi mereka sembari mensosialisasikan bahasa Arab. Bahasa Persia pada saat yang sama terjadi dinamisasi lantaran bergumul dengan bahasa Arab sehingga saling memperkaya cakrawala linguistik, tetapi pada saat yang sama bahasa Persia mulai terjadi privatisasi karena bahasa penguasa adalah bahasa Arab. Meski demikian, bahasa Persia tetap eksis dan bisa bersanding dengan bahasa Arab.

Edward G. Browne sepakat dengan Dermesteter, bahwa evolusi bahasa Persia terjadi tiga fase itu. Yaitu bahasa Persia kuno pada masa Kekaisaran Akhemeniyah, bahasa Persia pertengahan pada masa Kekaisaran Sasanian, dan bahasa Persia modern pada masa Islam hingga saat ini. Hampir mirip dengan evolusi bahasa Inggris, yaitu bahasa Inggris kuno pada masa Anglo Sakson, bahasa Inggris pertengahan, dan Inggris modern.

Tetapi menurut Theodore Noldek bahwa sebelum masa Kekaisaran Akhemeniyah, ada bahasa Mada atau disebut juga bahasa Media/Medes sebagai bahasa Persia kuno sudah digunakan masyarakat Persia. Bahasa Mada/Media/Medes ini adalah bahasa asli dan yang paling purba dari bahasa Persia. Sebagian pendapat mengatakan bahwa bahasa Mada memiliki kedekatan dan kesamaan dengan bahasa Persia. Karena memang asal dari bahasa Persia adalah bahasa Mada.

Baca Juga: Markas Besar Khatam Al Anbiya Sebut Pesawat Tempur AS Jatuh di Iran, Perusahaan Industri Israel Penjajah Hancur

Menurut Edward G. Browne dalam bukunya A Literary History of Persia yang diterjemah oleh Ahmad Kamaluddin Hilmy dengan judul Tarikh al-Adab fi Iran dan diterjemahkan ke bahasa Persia oleh Ali Basya Shalih menyatakan bahwa sekurang-kurangnya dua kali dalam sejarah bahasa Persia pernah dicoba digerus dan dikalahkan oleh dua kekuatan besar yang menguasai negeri Persia yang saat ini Iran.

Pertama, Alexander Agung menguasai Persia dan menggeser bahasa Persia dengan bahasa Yunani. Alexander menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi percakapan bangsa Persia. Memang di ruang publik bahasa Yunani cukup dominan lantaran kehendak penguasa. Tetapi bahasa Persia masih hidup di ruang-ruang privasi, di rumah-rumah, di ruang-ruang yang tak tersentuh oleh kekuasaan.

Kedua, di saat Islamisasi bangsa Persia dari Arab. Penguasa muslim Arab berusaha mensosialisasikan bahasa Arab dan mencoba menggeser dominasi bahasa Persia. Tetapi orang-orang Persia menerima bahasa Arab sekaligus mempertahankan bahasa Persia.

Bahkan telah lahir dari bangsa Persia para ahli bahasa Arab dan ikut berkontribusi dalam memperbaharui bahasa Arab menjadi bahasa Arab yang kita nikmati saat ini.

Di antaranya Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang Persia yang menemukan bentuk-bentuk huruf Hijaiyah dan titik dalam huruf Hijaiyah Ba, Ta, Tsa, Jim, Kha, Dzal, Za, Syin, Dhad, dan seterusnya. Juga harakat fathah, kasrah, dhammah, sukun. Dengan tanda baca yang ditemukan Khalil bin Ahmad itu, umat muslim dari luar Arab bisa lebih mudah membaca tulisan Arab. Ijtihad linguistik dan tulisan Arab Khalil bin Ahmad itu memang tujuan awalnya untuk mempermudah orang-orang 'ajam (non Arab), seperti bangsa Persia, dalam membaca tulisan Arab yang kala itu sedang digalakkan oleh penguasa muslim yang berkuasa.

Baca Juga: Laporan Intelijen AS: Iran Tak Akan Buka Selat Hormuz dalam Waktu Dekat

Kontribusi Khalil bin Ahmad ini pada akhirnya mempermudah bagi seluruh umat muslim baik Arab maupun Non Arab dan bagi peradaban manusia. Yang berkepentingan dengan bahasa Arab bukan hanya umat muslim tetapi juga seluruh umat manusia sedunia. Karena bahasa Arab salah satu bahasa komunikasi dalam berbagai aspek.

Khalil bin Ahmad memiliki murid yang juga dari bangsa Persia yang menjadi pakar ilmu Nahwu (Gramatika Arab) terkemuka yaitu Imam Sibawaihi. Imam Sibawaihi terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Kitab yang sangat tebal dan komprehensif berisi teori-teori ilmu Nahwu (Gramatika Arab).

Syahdan Khalil bin Ahmad juga ahli ilmu Nahwu. Tetapi setelah muridnya yaitu Imam Sibawaihi dikenal luas sebagai ahli ilmu Nahwu, pamor Khalil bin Ahmad sebagai ahli ilmu Nahwu meredup. Lalu Khalil pergi ke pantai mencari inspirasi dan merenung. Melihat deru ombak yang bersuara gemuruh dan bernada, Khalil menemukan ide menulis ilmu 'arud sebuah ilmu yang menjelaskan tentang teori-teori dan rumus-rumus cara membuat nadzham yaitu syair dan puisi bahasa Arab yang ditulis dengan bait yang terbelah dua dalam satu bait, mementingkan irama dan rima agar dapat didendangkan dengan merdu dan nikmat dibaca serta didengarkan. Dengan ilmu 'arud yang ditemukannya itu, nama Khalil bin Ahmad kembali bersinar dan magnet pada masanya.

Dari ilmu 'arud itu akhirnya para ulama dari berbagai disiplin ilmu keislaman khususnya banyak melahirkan nadzhaman. Karena nadzham itu mempermudah bagi para pelajar dalam menghafal dan memahami pelajaran. Sebab sambil belajar sembari berdendang dan bernada. Selain keindahan sastra karena mementingkan rima, nadzham juga mementingkan indahnya nada suara.

Baca Juga: Temui Jalan Buntu, Upaya Negara Kawasan Timur Tengah Jadi Mediator Gencatan Senjata AS dan Iran

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X