Nahwu atau amatika Arab bermula dari Abu Aswad ad-Dualiy yang belajar pada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Itu sepenggal kisah akar sejarah gramtika Arab dari pemilik bahasanya sendiri. Tetapi dalam perkembangannya teori gramatika Arab dinamis, berkembang dan diperdebatkan di kalangan bangsa Persia yang telah memeluk Islam.
Ada dua kelompok yang sering berbeda pandangan dan berdebat tentang teori gramatika Arab, Nahwu, yaitu kelompok yang berdomisili di Bashrah yang dikenal dengan Bashriyyin dan kelompok yang berdomisili di Kufah yang dikenal dengan Kufiyyin. Bashrah dan Kufah kala itu adalah wilayah bangsa Persia. Bashriyyin dan Kufiyyin adalah masyarakat Persia yang diakui dalam sejarah sebagai kelompok garda depan ilmu Nahwu, gramatika Arab. Perdebatan kedua kelompok ini tercatat dalam hampir semua kitab Nahwu, seperti Ibnu 'Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik, Hasyiyah Ibnu Hamdun, Hasyiyah Hudhari, Asymuni, dan yang lainnya.
Ada kelompok lain yang disebut kelompok Akaluniy Baraghits yang juga dari bangsa Persia, tetapi pandangan mereka dianggap lemah sebab keluar jauh dari kaidah pada umumnya. Disebut Akaluny Baraghits yang artinya Nyamuk-Nyamuk Menggigitku, lantaran dianggap Pandangan-pandangan sebagai pandangan masyarakat pinggiran yang dianggap kurang baik dalam gramatika dan tata bahasa Arabnya.
Bahasa Persia sejatinya sama tuanya dengan bahasa Arab. Sehingga keduanya sudah cukup lama terjadi tabadul tsaqafi (pertukaran kebudayaan). Sehingga tidak sedikit bahasa Arab serapan dari bahasa Persia. Sebaliknya cukup banyak bahasa Persia serapan dari bahasa Arab. Keduanya telah lama saling mempengaruhi. Ini terjadi ribuan tahun yang lalu.
Baca Juga: Link Nonton dan Jadwal Tayang Phantom Lawyer Episode 8 Sub Indo
Ketika bahasa Arab dirasa sangat mendominasi bangsa Persia, muncul seorang sastrawan Persia Firdausi dengan menuliskan 50.000 bait puisi epik dan sastra berbahasa Persia berjudul Shahnameh untuk mengembalikan kesadaran bahasa Persia pada orang-orang Persia yang menurutnya sudah terlena dengan bahasa Arab dan nyaris meninggalkan bahasa ibunya sendiri yaitu Persia.
Shahnameh karya Firdausi ini termasuk salah satu sastra klasik terpanjang di dunia. Meski masih di bawah I La Galigo sastra Nusantara dari Sulawesi Selatan. Shahnameh berisi 50.000 bait. Sedangkan I La Galigo berisi 300.000 bait. I La Galigo termasuk sastra paling panjang di dunia mengalahkan Mahabharata India dan Shahnameh Persia.
Shahnameh adalah tonggak nasionalisme Persia. Sebab bahasa merupakan elemen paling penting bagi kesadaran nasionalisme sebuah bangsa. Pasis segaris dengan itu, Sumpah Pemuda Indonesia yang diabadikan oleh L. Manik dalam lagu "satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa
Persia Sebagai Bahasa Sastra dan Ilmiyah
Para ulama, pemikir, sufi, intelektual dan sastrawan muslim Persia banyak yang menulis buku ilmiah dan sastra dengan bahasa Persia.
Maulana Jalaluddin al-Rumi sufi besar yang berpengaruh di Timur dan Barat menulis semua karyanya dengan bahasa Persia. Yaitu Matsnawi 5 jilid, Diwan Syamsuddin at-Tibriziy 2 jilid, Fihi Ma Fihi, Ruba'iyat, Maktubat, dan al-Arba'un. Saya mengoleksi dalam versi terjemahan dari Persia ke Arab. Matsnawi dan Diwan Syamsuddin at-Tibrizi diarabkan oleh Ibrahim ad-Dasuqiy Syatta, Fihi Ma Fihi diarabkan oleh Muhammad 'Alauddin Manshur.
Rumi menulis tentang teori-teori dan pengalaman spiritual serta cinta Ilahinya yang diungkapkan dengan bahasa sastra yang indah, mendalam, dan universal dengan menggunakan bahasa Persia. Dalam karya-karya Rumi menunjukkan betapa bahasa Persia sangat kaya kosakata sehingga bisa mengungkapkan pengalaman cinta dan rindu Ilahiy yang paling dalam, intim, intens dan luas.
Sufi besar Fariduddin al-'Atthar menulis teori-teori sufisme dan spiritualitas Islam dengan bahasa Persia. Di antaranya kitab Ilahiy Nama dan Mushibat Nama. Al-'Atthar menuliskan eksperimentasi spiritualnya dengan narasi sastra, bukan narasi normatif.
Ahmad al-Ghazali--adik kandung Imam Abu Hamid al-Ghazali penulis kitab Ihya Ulumuddin--menulis tentang 'isyq (kasmaran) kepada Allah dengan bahasa Persia dalam kitab al-Sawanikh. Konon Ahmad al-Ghazali lebih dulu masuk dan menggeluti ilmu tasawuf daripada Imam al-Ghazali sebagai kakaknya.
Artikel Terkait
Akan Pengaruhi Tingkat Elektoral, Sikap Pemerintah Indonesia Harus Tegas Terkait Serangan AS-Israel atas Iran
Temui Jalan Buntu, Upaya Negara Kawasan Timur Tengah Jadi Mediator Gencatan Senjata AS dan Iran
Laporan Intelijen AS: Iran Tak Akan Buka Selat Hormuz dalam Waktu Dekat
Markas Besar Khatam Al Anbiya Sebut Pesawat Tempur AS Jatuh di Iran, Perusahaan Industri Israel Penjajah Hancur
Laporan Intelijen AS Ungkap Setengah Peluncur Rudal Iran Masih Utuh, Ini Kata Gedung Putih