Oleh: AM Hendropriyono
Guru Besar Filsafat Intelijen Sekolah Tinggi Intelijen Negara
Pendahuluan
Tahun 2025 memperlihatkan pertarungan segitiga yang semakin jelas dalam politik global :
- Kapitalis Global berupaya mempertahankan hegemoni finansial internasional melalui instrumen rules-based order dan jaringan NGO/LSM internasional.
- Ultra-Nasionalis Trump dan gerakan serupa di Eropa menolak globalisme, menekankan isolasionisme, dan menentang keterlibatan militer luar negeri.
- China dan Rusia bersama Indonesia serta para anggota BRICS mendorong multipolaritas dengan alternatif sistem ekonomi-politik yang menantang dominasi Barat.
Di tengah pertarungan ini, demonstrasi massa dijadikan arena pertarungan proksi. Kaum marjinal digerakkan melalui pendanaan NGO (LSM) untuk menekan rezim yang dianggap anti-kapitalis atau pro-China, serta untuk melemahkan legitimasi pemerintah nasionalis.
Mekanisme Pendanaan
NGO internasional berperan sebagai saluran pendanaan, baik melalui program advokasi, bantuan sosial, maupun kampanye ‘hak asasi manusia’ yang kemudian bertransformasi menjadi mobilisasi massa.
Dana miliaran dolar per-tahun digelontorkan oleh lembaga seperti National Endowment for Democracy (NED), International Republican Institute (IRI), Freedom House, Open Society Foundations milik George Soros, serta lembaga sejenis seperti National Democratic Institute (NDI) dan USAID.(1),(2),(3),(4),(5),(6).