Demonstrasi Petani & Buruh: Pada 24 September 2025, lebih dari 25 ribu petani melakukan aksi serentak di Jakarta dan berbagai daerah dengan 9 tuntutan nasional. Aksi ini beririsan dengan gerakan buruh dan mahasiswa, memperbesar skala mobilisasi.
Isu Lingkungan & Agraria: LSM internasional aktif mendanai kampanye perubahan iklim, perampasan tanah, dan deforestasi. Isu ini diarahkan untuk melemahkan program hilirisasi tambang dan perdagangan karbon Indonesia.
Kerusuhan & Kerugian Sosial: Demo ricuh di Jakarta, Bandung, dan Surabaya mengakibatkan kerusakan fasilitas publik. Kerugian ekonomi nasional ditaksir Rp 900 miliar – Rp 1,2 triliun, belum termasuk dampak sosial berupa penurunan produktivitas, trauma psikologis, dan menurunnya kepercayaan investor.
Strategi Subversi Non-Militer: Aliran dana dari lembaga asing (NED, IRI, Freedom House, OSF, USAID) diarahkan untuk membangun jaringan oposisi permanen yang siap digerakkan kapan saja.
Dengan posisi geopolitik yang semakin tegas di kubu multipolaritas, Indonesia kini menghadapi tiga lapis tekanan:
- Ekonomi, arus modal keluar dan intervensi korporasi global.
- Sosial, mobilisasi petani, buruh, mahasiswa, dan isu lingkungan.
- Politik, upaya delegitimasi pemerintahan pro-BRICS dan pro-Palestina.
Indonesia pun menjadi laboratorium operasi subversif non-militer, sejajar dengan Rusia, China, dan India.
Kerugian Sosial di Asia Tenggara
- Indonesia (Jakarta, 2025)
- Kerusakan aset publik di Jakarta mencapai Rp 50,4 miliar. (7)
- Kerugian nasional diperkirakan Rp 900 miliar hingga Rp 1,2 triliun. (8), (9).
- Estimasi kerugian sosial total USD 125–312 juta.
- Nepal (Kathmandu, 2025)
- “Gen Z Uprising” menyebabkan kerugian langsung Rs 3 triliun (+ USD 22,7 miliar) (10).
- Pariwisata anjlok 30% (11)
- Estimasi kerugian sosial USD 45–113 miliar.
- Filipina (Manila, 2025)
- Protes mahasiswa dan buruh menekan pemerintah pro-AS.
- Estimasi kerugian sosial USD 40–120 juta per hari.