Profesor AM Hendropriyono dalam bukunya, Filsafat Intelijen, menjelaskan bahwa pengalaman panca indera yang dilaporkan ke otak merupakan cara kerja Filsafat Intelijen, sejak otak menerima hasil pengalaman panca indera dan dipikir secara logika. Gangguan terhadap pengalaman tersebut, yang biasanya terjadi pada indera pengelihatan dan pendengaran, dapat mengakibatkan kegagalan logika.
Maka dari itu, Logika Intelijen adalah pemikiran yang teratur, lurus dan tepat. Maksud dari teratur adalah informasi yang dipilih bersifat rasional, karena sumber-sumber dan datanya dapat dipercaya. Adapun lurus berarti, data yang dikirimkan ke otak dapat diverifikasi secara empirik. Sedangkan maksud dari tepat (exactus) adalah mengandung kebenaran dalam mencapai sasaran.
Aktifitas intelijen yang berhasil dalam menggunakan panca indera sesuai dengan Filsafat Intelijen, memiliki padanan melalui penafsiran pada ayat ke-87 surah Yusuf. Mantan Menteri Wakaf Mesir Syaikh Muhamamd Mutawalli Sya’rawi dalam tafsirnya menjelaskan maksud dari ayat tersebut adalah perintah Nabi Ya’qub AS kepada sepuluh anaknya untuk mencari kabar keberadaan dan kondisi Nabi Yusuf AS dan saudara seibunya Benyamin dengan semua indranya baik itu mata (pengelihatan) dan telinga (pendengaran) untuk mencerna informasi-informasi yang didapatkan sehingga mendapatkan informasi yang valid.
Imam Al Fakhru Ar Razi menukil penyatakaan Abu Bakar Al Anbari tentang makna Tahassus yaitu mencari informasi tentang seseorang akan tetapi tidak dari orang tersebut. Pengertian Tahassus ini berhenti pada pencarian informasi menggunakan panca indera yang selanjutnya dicerna oleh otak (tajrubah) untuk menjadi informasi yang valid (khabar), dan hanya disampaikan kepada pihak yang memerintahkan mencari informasi dan tidak disebarkan kepada khalayak sehingga tidak menimbulkan kesan dan dampak apapun (baik atau buruk), seperti perintah Nabi Ya’qub AS kepada anak-anaknya, yang hasilnya disampaikan hanya kepada Nabi Ya’qub AS saja sebagai satu-satunya single user.
Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa kerja intelijen memiliki landasan yang kuat di dalam Al Qur’an. Keberhasilan kerja intelijen tidak perlu mendapat sambutan yang gegap gempita, karena kesetiaan dalam kerja intelijen menjadi acuan penting demi stabilitas keamanan sebuah negara.
Kemeriahan justru pada perayaan ulang tahun penggagas Ilmu Filsafat Intelijen, Profesor Am Hendropriyono yang dihadiri oleh sejumlah tokoh bangsa. Dari Guntur Soekarnoputra, Jenderal Agum Gumelar, Gusti Mangkubumi X, Gusti Prabukusumo, Tantowi Yahya, Ebiet G. Ade, Anwar Fuadi, dan Once Mekel, turut hadir memeriahkan serta berharap agar Profesor AM Hendropriyono terus menginspirasi dan menjaga semangat kebangsaan khususnya bagi generasi muda.
Sanah Helwah Profesor. Sehat selalu dalam lindungan Ilahi dan terus menginspirasi.