Mengenal Lebih Dekat Abdul Malik bin Marwan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 5 April 2023 | 15:43 WIB

 

Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc

 

Kekuasaan Yazid bin Mu’awiyah hanya berlangsung 3 tahun. Anaknya, Mu’awiyah bin Yazid yang dikenal dengan Mu’awiyah II tidak berkenan menggantikan ayahnya, khawatir akan menanggung beban moral khususnya setelah wafaynya Al Husain bin Ali RA. Hasil musyawarah para pinisepuh Bani Umayyah menyepakati untuk mengangkat Marwan bin Al Hakam sebagai pengganti Yazid bin Mu’awiyah. Selanjutnya, keturunan Marwan bin Al Hakam yang berperan sebagai penguasa Dinasti Bani Umayayah.

Guna memperkuat kekuasaan Bani Umayyah, Marwan bin Al Hakam menggunakan para tokoh kabilah Yaman yang berada di Syam sebagai pasukannya, selain kedekatan Bani Umayyah dengan kabilah-kabilah Arab di Syam. Salah satu tokoh yang terkuat adalah Al Hajjaj bin Yusuf, yang kakek buyut dari ibunya Al Fari’ah binti Humam, yaitu Urwah bin bin Mas’ud Ats Tsaqafi RA merupakan salah satu Sahabat RAyang berperan dalam mengislamkan penduduk Thaif.

Kepemimpinan Marwan bin Al Hakam yang menstabilkan Bani Umayyah, dilanjutkan oleh anaknya Abdu Malik bin Marwan dengan catatan penguasa setelahnya adalah saudaranya Abdul Aziz bin Marwan, yang merupakan gubernur Mesir. Pada saat itu, kekuasaan Umat Islam terbagi menjadi empat bagian yaitu :

  1. Bani Umayyah menguasai Syam dan Mesir
  2. Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mush’ab bin Az Zubair menguasai Hijaz dan Irak
  3. Syiah menguasai bekas wilayah Persia (bagian timur Irak)
  4. Khawarij menguasai kawasan Najed dan Bahrain

 

Abdul Malik bin Marwan berusaha keras untuk menyatukan semua wilayah Umat Islam di bawah panji Bani Umayyah. Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi diangkat sebagai panglima perang memimpin Jaisy (Tentara) Bani Umayyah dalam berbagai perang. Target pertama adalah Mush’ab bin Az Zubair yang menguasai Irak, kemudian Khawarij yang menguasai Bahrain dan Najed. Awalnya, Khawarij bergabung dengan Abdullah bin Az Zubair di bawah kendali adiknya, Mush’ab bin Az Zubair akan tetapi kemudian pecah, karena Khawarij menolak kepemimpinan keturunan Quraisy sebagai pemimpin Umat Islam. Posisi Mush’ab bin Az Zubair dijepit oleh Bani Umayyah di barat, Khawarij di selatan dan Syiah di timur. Sedangkan di utaranya adalah Asia Kecil yang merupakan wilayah kekuasaan Romawi yang tidak mungkin dimintai bantuan karena merupakan musuh Umat Islam.

Setelah Irak berhasil dikuasai oleh Bani Umayyah, pasukan yang dipimpin Al Hajjaj bin Yusuf menguasai menumpas Khawarij yang lemah di Najed dan Bahrain. Penyebab lemahnya Khawarij dikarenakan perpecahan internal di kalangan Khawarij dan kurang mendapatkan simpati dari masyarakat karena tidak memahami ajaran Islam dan akan tetapi menerapkan kesalah-pahaman tersebut dengan sewenang-wenang, sehingga mereka tidak dapat bersatu dan sangat mudah untuk ditumpas.

Khawarij berpendapat setiap dosa walaupun dosa kecil dianggap sebagai dosa besar yang pelakunya harus mendapatkan hukuman (yaitu dibunuh) walaupun tidak cukup bukti tuduhan tersebut. Masyarakat seolah berada dalam hukum rimba. Hal ini berbeda dengan Bani Umayyah yang memiliki sistem peradilan yang memberikan kesempatan bagi siapapun untuk membela diri dari tuduhan yang merugikannya.

Setelah menumpas Khawarij, Al Hajjaj bin Yusuf melanjutkan peperangan menuju Hijaz dan berhasil menguasai Madinah dan Makkah. Dalam peperangan di Makkah, Al Hajjaj bin Yusuf terpaksa menggunakan manjanik (ketapel raksasa) sehingga bangunan-bangunan kota Makkah termasuk Ka’bah dan rumah-rumah Bani Umayyah turut hancur atau rusak. Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Ka’bah dibangun kembali dengan model Quraisy menggantikan model Abdullah bin Az Zubair.

Bentuk awal bangunan Ka’bah adalah pintunya menyentuh tanah, sampai direnovasi oleh Kaum Quraisy dengan meninggikan pintu Ka’bah agar tidak tergenang air saat hujan. Abdullah bin Az Zubair menganggap meninggikan pintu Ka’bah merupakan upaya Kaum Quraisy agar tidak semua orang dapat memasuki Ka’bah. Akhirnya, Abdullah bin Az Zubair menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali seperti model lama yaitu pintunya menyentuh tanah. Al Hajjaj bin Yusuf oleh Abdul Malik bin Marwan diperintahkan membangun Ka’bah dengan model Kaum Quraisy yang meninggikan pintu Ka’bah sehingga saat hujan air tidak masuk ke dalam Ka’bah. Setelah berhasil menguasai Hijaz, Abdul Malik bin Marwan mengangkat Al Hajjaj bin Yusuf sebagai gubernur Irak dengan tujuan untuk menghadapi Syiah yang berada di timur Irak dan kawasan bekas wilayah Persia.

Setelah berhasil menguasai wilayah Irak, Hijaz, Najed dan Bahrain, Abdul Malik bin Marwan menata administrasi pemerintahan dengan beberapa langkah yaitu :

  1. Menerjemahkan data penduduk dan catatan pajak dari bahasa Yunani (di Mesir) dan bahasa Persia (di Irak) ke dalam Bahasa Arab.
  2. Menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan.
  3. Mencetak uang dinar (emas) dan dirham (perak).
  4. Melarang dan mengharamkan penggunaan dinar Romawi sebagai alat tukar perdagangan.
  5. Mengangkat Al Katib yang kemudian disebut Al Wazir dalam mengamati Diwan Al Barid dan Diwan Al Khatim, yang keduanya merupakan lembaga administrasi.

 

Kebijakan mencetak dinar dan dirham serta larangan penggunaan dinar Romawi menimbulkan kemarahan bagi Romawi, berupa gangguan keamanan di kawasan perbatasan, sehingga Abdul Malik bin Marwan mengirim Jaisy (Tentara) ke kawasan perbatasan melawan Romawi. Dalam peperangan di perbatasan, Jaisy (Tentara) Bani Umayyah berhasil mengalahkan Romawi sekaligus menguasai Al Mashishah di Maroko. Perluasan wilayah ini akan mendukung penaklukan Andalusia di masa kekuasaan Al Walid bin Abdul Malik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X