Di tengah persaingan global yang semakin terbuka, kemampuan bernarasi bukan hanya soal diplomasi politik, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi, budaya, dan identitas bangsa. Jika kita tidak hadir dengan suara kita sendiri, maka ruang itu akan diisi oleh orang lain—dengan perspektif yang belum tentu mewakili kita.
Karena itu, tugas kita hari ini bukan sekadar belajar bahasa asing, tetapi menggunakannya untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia: tentang budayanya, potensinya, dan cara pandangnya. Kita memiliki kapasitas untuk melakukannya. Kita memiliki sumber daya manusia, kekayaan budaya, dan pengalaman sejarah yang layak untuk diceritakan.
Kita pasti bisa—asal kita mau mengambil peran itu sendiri.