Di sisi lain,ada figur muda Dr. Hassan Ahmadian memainkan peran yang berbeda namun sama pentingnya. Ia dikenal karena kefasihannya dalam bahasa Arab, dan sering tampil di media Asia Barat seperti Al-Jazeera, Al Araby, Al-Mayadeen dan sejumlah podcast yang berbahasa Arab, untuk menjelaskan posisi Iran kepada audiens Arab.
Jika Marandi berbicara kepada dunia dengan logika, Ahmadian berbicara kepada kawasan dengan rasa, dengan resonansi emosional dan historis
Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi di Asia Barat; ia adalah bahasa sejarah, agama, dan identitas kolektif. Dalam konteks konflik, penggunaan bahasa Arab memungkinkan Iran untuk mengaitkan narasi mereka dengan isu Palestina, penindasan terhadap orang Arab, selain itu menyentuh memori kolektif tentang kolonialisme dan perlawanan, tentu saja dengan bahasa Arab, Iran ingin membangun solidaritas lintas negara Arab
Ahmadian, dengan kefasihan dan kepekaannya terhadap nuansa bahasa Arab, menjadi jembatan antara Iran (yang secara etnis bukan Arab) dengan dunia Arab yang seringkali skeptis.
Fenomena Marandi dan Ahmadian menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berperang secara militer, tetapi juga secara linguistik dan kultural. Marandi menaklukkan ruang diskursus Barat dan Ahmadyan menghidupkan resonansi regional Arab.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi.
Dalam perang modern, siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai persepsi. Dan persepsi sering kali lebih menentukan daripada peluru.
Ketika Bahasa Menjadi Garda Depan
Sebagai seorang pendidik bahasa, saya melihat pelajaran fundamental dari dinamika yang terjadi di panggung global saat ini. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah kekuatan geopolitik dan ekonomi. Yang nyata-mampu membangun opini, membalikkan situasi, dan bahkan mengubah arah sejarah. Bukan cuma itu beberapa negara-negara kecil mampu mengangkat martabat mereka melalui bahasa dunia yang mereka narasikan dengan apik.
Kita di Indonesia cenderung “lemah” di kanca internasional, bukan karena lemahnya argumen atau tidak benarnya fakta yang kita bawa. Lebih sering, kita gagal karena satu kelemahan mendasar: ketidakmampuan menyampaikan kebenaran itu dalam bahasa yang dikuasai dunia. Argumen sekuat apa pun akan kehilangan dayanya jika terbungkus dalam kemasan yang tak dapat dicerna oleh pendengar global.
Iran—melalui dua tokoh intelektualnya, Sayyid Mohammad Marandi dan Dr. Hassan Ahmadian telah memberikan teladan yang menarik. Mereka menunjukkan bahwa Menguasai bahasa lawan berarti memasuki pikirannya. Dengan fasih berbahasa Inggris, mereka mampu menjelaskan narasi dari pihak yang sering kali dibungkam media arus utama. Mereka tidak sekadar menerjemahkan kata, tetapi menerjemahkan logika, budaya, dan konteks ke dalam kerangka yang dipahami dunia Barat dan Menguasai bahasa sendiri berarti menjaga jati diri. Di balik kefasihan mereka dalam bahasa global, akar pemikiran dan keberpihakan mereka tetap kokoh pada nilai-nilai lokal dan keyakinan bangsanya. Bahasa asing menjadi pintu masuk, bukan rumah baru.
Kombinasi keduanya—kefasihan global dan integritas lokal—itulah kekuatan sejati.
Perang yang berlangsung selama lebih dari empat puluh hari di Asia Barat ini, kelak akan dicatat dalam lembaran sejarah sebagai perang militer, perang rudal, dan perang propaganda. Namun bagi saya, sebagai pengamat bahasa, ia juga merupakan perang bahasa yang tidak kalah menentukan.
Di tengah dentuman ledakan dan hiruk-pikuk informasi yang simpang siur, dua orang akademisi itu berdiri di garis depan. Bukan dengan senapan atau tank, tetapi dengan mikrofon dan kata-kata yang terstruktur, tenang, namun menusuk kesadaran. Mereka membuktikan bahwa di era informasi ini, narasi bisa lebih tajam dari pecahan peluru.
Pada akhirnya, yang menentukan arah sejarah bukan sekadar kekuatan kata, tetapi siapa yang mampu menggunakannya untuk mewakili dirinya sendiri di hadapan dunia. Bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan realitasnya dalam bahasa yang dipahami secara global.
Kita tidak harus berada dalam situasi seperti Iran—yang menarasikan dirinya di tengah konflik—untuk menyadari pentingnya bahasa. Bagi Indonesia, tantangannya berbeda, namun tidak kalah mendesak. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menceritakan Indonesia kepada dunia?
Apakah kita sendiri, atau justru pihak luar yang membingkai kita sesuai kepentingan mereka?