Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff menerima pesan dari Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, Bahrain dan UEA. Pesan itu disampaikan, bukan pengumuman tentang Iran yang disampaikan oleh Donald Trump, akan tetapi pembentukan Dewan Perdamaian Internasional untuk mengelola Jalur Gaza Palestina, seperti yang telah dijanjikannya.
Pembahasan Donald Trump berubah 180 derajat. Dari peperangan menjadi perdamaian. Sekutu-sekutunya merasa tidak aman dengan sikap Donald Trump, yang baru menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris, kemudian akan menyerang Iran. Bayangan para pemimpin Teluk Arab adalah krisis keamanan dan ekonomi di Mesir tahun 2013-2016 setelah tumbangnya rezim Ikhwanul Muslimin.
Mereka tidak membayangkan jika jalur Selat Hormuz ditutup oleh Iran, juga tidak membayangkan jika kilang-kilang minyak dan kilang-kilang gas menjadi target serangan. Ekonomi Teluk Arab pasti lumpuh. Tidak hanya 30 persen jalur migas dunia, tetapi pelayaran, ekspor-impor, penerbangan dan pariwisata yang sedang digenjot keras oleh Arab Saudi dan menjadi andalam UEA, juga akan lumpuh.
Tidak hanya Umat Islam yang melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah dan sekitarnya, Umat Kristiani yang akan melaksanakan Holy Tour dengan rute biasanya yaitu Mesir, Palestina, Israel dan Yordan, akan terancam keselamatan mereka. Banyak pihak akan rugi, minimal pasokan energi dan bahan bakar minyak bakal terganggu, yang akibatnya harga-harga akan naik.
Iran pasti akan melawan. Loyalitas Rakyat Iran kepada pemimpin mereka, jangan disamakan dengan Venezuela. Hugo Chaves hanya beruntung karena harga minyak tinggi, sehingga program-program sosialisme-bolivarian dapat terlaksana. Begitu harga minyak terjun bebas, krisis terjadi dan Nicolas Maduro tidak mampu mengatasinya. Tidak semua rakyat Venezuela setia kepadanya.
Berbeda dengan Iran. Doktrin bernegara Iran bukan sosialisme. Seluruh calon presiden diseleksi oleh Pemimpin Spiritual Tertinggi, kemudian dipilih secara demokratis oleh rakyat. Bagi Rakyat Iran, Pemimpin Sepiritual Tertinggi merupakan pemimpin dari sistem politik sebagai representasi dari Imam Mahdi yang akan muncul menjelang Hari Kiamat untuk menciptakan keadilan.
Dari keyakinan ini, Iran bertahan dari berbagai embargo, bahkan sains dan teknologi mereka berkembang pesat. Iran semakin mandiri. Bahkan terkait jilbab pun, tidak seketat yang dibayangkan. Bisa kita lihat di jalan-jalan di Teheran dan sejumlah kota lainnya.
Keyakinan ini tidak hanya tersebar di Iran, akan tetapi telah menyebar di berbagai negara dunia. Inilah sumber ketakutan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Sistem politik ini bernama Wilayatul Faqih. !!