GEBRAK PODIUM PBB ALA PRABOWO

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 30 September 2025 | 18:02 WIB
SIDANG OKI: Wakil Tetap (permanent representative) RI untuk OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) Agus Maftuh Abegebriel yang juga Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Arab Saudi menghadiri Pertemuan Luar Biasa (Extraordinary Meeting) di Markas Besar OKI di Kota Jeddah. (suaramerdeka.com/dok)
SIDANG OKI: Wakil Tetap (permanent representative) RI untuk OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) Agus Maftuh Abegebriel yang juga Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Arab Saudi menghadiri Pertemuan Luar Biasa (Extraordinary Meeting) di Markas Besar OKI di Kota Jeddah. (suaramerdeka.com/dok)

Lalu apa korelasi gebrak meja dengan ilmu tajwid dan ilmu i’rab itu? Korelasinya sangat erat dan significant karena dalam diplomasi ada saatnya kita keras, tegas dan lantang dalam menyampaikan sikap. Sikap tegas ini dalam ilmu tajwid dikenal dengan istilah “izhar” (jelas lantang bertekanan dalam membaca huruf per huruf dalam rangkaian narasi).

Sikap “izhar” Presiden Prabowo didorong karena sekian lama melihat sikap ketidak-tegasan dalam efforts untuk memerdekaan Palestina. Sikap tidak tegas tersebut yang kita kenal dengan istilah ikhfa’ dalam ilmu tajwid, sebuah sikap yang samar-samar dan kurang menghentak dalam menyampaikan sikap untuk membantu Palestina.

Prabowo tahu persis sudah berapa ratus resolusi yang dikeluarkan oleh OKI dan PBB untuk menjewer Israel dan merealisasikan kemerdekaan Palestina? Israel selalu memandang OKI yang Bahasa Inggrisnya OIC (Organization of Islamic Cooperation) dengan menganggapnya sebagai singkatan dari: OIC= Oooh I See (ya saya ngerti dan faham). Israel juga memandang PBB atau UN (United Nations) sebagai singkatan UN: Under Negotiations (kabeh iso dirembug dan dinego). Sebuah sikap yang bikin Presiden Prabowo “gregeten”.

Gebrak podium itu juga merupakan sikap “rafak” dalam gramatikal arab yang artinya Indonesia harus menjadi subyek aktif pelaku dan inisiator perdamaian Israel dan Palestina secara proporsional.

Lalu kenapa harus gebrak podium? Jawabannya: jika ngurus Palestina sekian puluh tahun tidak menemukan solusi dengan cara yang “biasa” maka kita harus lakukan dengan cara yang “tidak biasa”. Cara yang tidak biasa ini saya sebut dengan “bid’ah diplomatik” sebagai “ice breaking” pemecah kebuntuan dalam diplomasi multilateral.

Manfaat “I’rab diplomatik” pernah saya rasakan ketika saya bertugas 6 tahun di Saudi sebagai pelayan WNI. Di depan para Pangeran Kerajaan Arab Saudi, saya nyanyikan lagu kebangsaan Saudi lengkap dengan analisa “i’rab” kata per kata dari mulai awal lagu sampai akhir lagu yang dipungkasi dengan “ asyal malik lil alam wal watan”. Sejak itu saya mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam tugas negara di Arab Saudi. Semua ini adalah barokah ketika saya di pesantren belajar kitab “Al-Kafrawi” dan “Milhatul I’rab” yang membahas khusus analisa dan posisi kata per kata narasi dalam Bahasa Arab.

9 bulan yang lalu saya goreskan tulisan di buku “Islam ala Prabowo” bahwa saya memang sangat berharap di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia bisa lebih aktif dalam diplomasi untuk kemerdekaan Palestina.

Dengan semua wawasan tentang dunia Arab yang dimiliki Presiden Prabowo, saya semakin yakin bahwa Indonesia bisa memainkan peran besar dalam diplomasi jalur cepat, fast track diplomacy, untuk mendorong perdamaian antara Palestina dan Israel. Bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar membuka jalan agar konflik yang tak berkesudahan ini bisa menemukan titik terang.

Dua negara ini harus bisa hidup berdampingan dalam skema two-state solution, hall al-daulatain, sebuah solusi di mana keduanya tetap berdiri sebagai negara berdaulat tanpa harus meniadakan atau menghapus salah satunya dari peta dunia atau yang biasa dinarasikan dengan “mahwu ad-daulah an al-kharithah”.

Gusdurized General

Saya pungkasi tulisan ini dengan merecovery kenangan bersama Almarhum Gus Dur. Ketika itu Gus Dur sering melakukan pertemuan dan diskusi bersama Prabowo (Mas Bowo, begitu Gus Dur menyapa), The Rising Star saat itu. Diskusi kadang offline dan kadang online. Device untuk online ketika itu adalah Nokia Komunikator, sebuah gadget mewah dan “nggaya” saat itu.

Pesan-pesan serta advice Gus Dur ke Prabowo menjadi “mercu suar” sinyal pengarah langkah Prabowo. Tidak berlebihan kalau saya menyebut Presiden Prabowo sebagai “Gusdurized General” Jenderal yang ter-gusdur-kan .

Satu kenangan lagi bersama Gus Dur yang terkait dengan gebrak podiumnya Presiden Prabowo, terjadi pada tahun 2006. Saat itu saya nyopiri beliau ke Bandara Adisucipto selepas beliau rawuh ke rumah saya di Druwo Sewon Yogya. Di perjalanan tersebut beliau tanya ke saya dengan gaya khas beliau.

“Mas Maftuh” begitu Gus Dur panggil saya. Sampean pernah ngerti Madona-nya Timur Tengah?

Saya jawab: Umi Kulsum ya Gus. Penyanyi yang mendendangkan lagu “Ya Masharani’ (Wahai Kau yang membuatku tidak bisa tidur).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X