Studi Lapangan Perang Iran-Israel: Implikasi dan Ancaman atas Dunia Internasional di Masa Depan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 13 Juli 2025 | 14:41 WIB
Mayjen (Purn) Mahmuh Al Nathour dan Almarhum Yaser Arafat. Saat kepemimpinan Yaser Arafat, Mahmud An Nathour adalah Direktur Bidang Keamanan Khusus Badan Keamanan Nasional Palestina (Mush'ab Muqoddas)
Mayjen (Purn) Mahmuh Al Nathour dan Almarhum Yaser Arafat. Saat kepemimpinan Yaser Arafat, Mahmud An Nathour adalah Direktur Bidang Keamanan Khusus Badan Keamanan Nasional Palestina (Mush'ab Muqoddas)

 

Mayjen (Purn) Mahmoud Al-Natour 

Mantan Komandan Paspampres Kepresidenan Palestina

 

Penetrasi intelijen Israel berperan dalam memberikan unsur kejutan dan superioritas teknologi, serangan udara, dan serangan intelijen dalam pertempuran. Hal ini membantu menargetkan sejumlah instalasi nuklir Iran, proyek rudal, landasan pacu, fasilitas manufaktur, dan lokasi penyimpanan senjata, serta mengganggu pertahanan udara. Amerika Serikat terlibat dalam perang tersebut, menyediakan senjata, amunisi, dan informasi intelijen, serta berpartisipasi dalam menangkis rudal Iran, dan mengerahkan pesawat pengebom raksasa untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.

Perang Israel - Iran terbatas secara geografis. Karena target serangan hanya di dalam perbatasan kedua negara, dan intensitas daya tembaknya tinggi. Sasaran militer, nuklir, dan sipil Iran yang menjadi target tersebar di sekitar 14 provinsi di Iran.

Setelah Iran menerima serangan pertama, responsnya diperhitungkan untuk menghindari terseret ke dalam perang skala besar, yang dapat membuat Teheran kehilangan kendali, terutama dengan terkikisnya kemampuan sistem pertahanannya. Respons Iran berfokus pada rudal dan drone. Iran memiliki sekitar 2.000 rudal balistik yang dapat mencapai Israel dalam waktu 15 menit, dan drone yang mampu terbang hingga 1.500 kilometer.

Iran menghindari penargetan fasilitas nuklir Israel, melainkan berfokus pada lokasi-lokasi sensitif seperti pangkalan militer Israel, fasilitas strategis, infrastruktur, dan kawasan permukiman. Hal ini membuka babak baru dalam konflik Iran-Israel, serta menempatkan sistem militer Israel pada ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat berbahaya.

Dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih, kebijakan AS berfokus pada perlunya merekayasa ulang keseimbangan dunia internasional untuk mempertahankan kepentingan AS di berbagai kawasan dunia. Hal ini didasarkan pada perluasan cakupan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang berkelanjutan agar mencakup lebih banyak negara di kawasan (Suriah, Arab Saudi, Pakistan, dan Indonesia), membendung ekspansi Tiongkok dan Rusia, dan melemahkan Iran dengan membongkar program nuklir Iran menggunakan kekuatan militer.

Keputusan Trump untuk menghentikan perang didasarkan pada penilaiannya bahwa serangan AS telah mencapai tujuannya untuk menghancurkan program nuklir Iran. Hal ini akan mendorong Iran untuk bernegosiasi, menghindari perpanjangan perang, dan mencegah pihak lain memasuki konflik, yang akan berdampak di skala regional dan internasional.

Israel gagal menghancurkan proyek nuklir Iran dan menggulingkan rezim Iran, yang berarti bahwa keuntungan Israel terbatas pada tingkat taktis. Jatuhnya puluhan rudal Iran di kota-kota Israel menghancurkan doktrin keamanan Israel yang berbasis tanpa target dan menunjukkan bahwa kekuatan Israel tidaklah absolut, terutama karena tidak mampu menahan perang atrisi jangka panjang.

Perang ini juga mengungkap kelemahan pertahanan udara Iran dan kelemahan badan intelijennya dalam memerangi infiltrasi Israel, yang telah mencapai titik keberhasilan membangun pangkalan logistik yang mampu beroperasi dan melancarkan serangan dari dalam Iran.

Iran tidak memiliki sekutu utama meskipun memiliki hubungan dengan Rusia dan Tiongkok. Peristiwa ini mengungkapkan bahwa poros Iran mengalami pembatasan yang mencegahnya mendapatkan dukungan militer.

Meskipun Iran telah berhasil memulihkan keseimbangannya dan melancarkan serangan balik yang efektif terhadap Israel, Iran masih mempertahankan program nuklir dan program militernya untuk memproduksi rudal dan drone, sementara sistem politiknya tetap utuh. Namun, kekuatannya kini telah melemah dibandingkan sebelum perang. Oleh karena itu, berhentinya pertempuran memenuhi kebutuhan Iran untuk membangun kembali kekuatannya dan mempercepat upayanya untuk memproduksi bom nuklir.

Iran akan sibuk memulihkan kerugiannya dan menangani pelanggaran intelijen, di samping kesibukannya dalam proses negosiasi. Terlepas dari kerusakan yang ditimbulkan pada basis-basis Garda Revolusi Iran, kecil kemungkinan Iran akan meninggalkan proxy-proxy yang telah dibinanya, atau apa pun yang tersisa dari mereka, karena alasan yang berkaitan dengan kepentingan regionalnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X